Doa-doa Sebelum Malam Reinkarnasi

21 comments
Semoga malam ini kau sudah tertidur di atas ranjangmu
Agar aku bisa menopang tubuh kelelahanmu
Dan lahir sebagai gumpalan kapuk
Yang menyamankan tidurmu hingga pagi

Semoga kali ini kau sedang mengenakan sweater kesayanganmu
Yang warnanya mulai pudar itu
Agar ketika aku lahir di tiap helai benang wol-nya
Aku bisa langsung memeluk, menghangatkan tubuhmu

Semoga saat ini kau sedang membaca buku puisi kesukaanmu
Supaya ketika aku lahir di antara aksara-aksaranya
Kau bisa seketika mengenali kelahiranku
Lewat metafora dalam tiap-tiap baitnya

Sebentar lagi aku akan bereinkarnasi, Sayang..
Jika kau tidak sedang tidur, memakai sweater
Atau membaca buku puisi..
Maka aku akan merapal doa terakhirku;
Semoga saja saat ini kau sedang berdiri
Di depan teras, mencari-cari kunci di saku celana
Sebelum akhirnya membuka pintu rumahmu
Tempatmu selalu berpulang;
Aku



Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network
Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Tahun Ini Kudatangi Kotamu, Tujuh Kali

16 comments
Pertama, ketika awan masih begitu angkuh dengan putihnya, dan matahari masih malu-malu untuk mencemburui bumi. Itulah pertemuan pertamaku dengan kotamu. Pertemuan dimana aku membuang jam-jam malamku demi mendengarkan seorang penyiar radio kesukaanmu mengudara hingga dijemput subuh. 

Kedua, aku datang dengan membawa sekeranjang buah mangga juga srikaya dan kau menyambutku dengan bercangkir-cangkir   Mandheling. Saat itu kau menitipkan sebuah rahasia pada burung biru kecil yang hinggap di meja kerjamu; kau bilang aku seperti secangkir kopi yang kau sesap di suatu sore yang berawan. Biar kuberi tahu kau, semua burung yang berwarna biru tidak pernah bisa dipercaya. Dalam hitungan menit, rahasiamu sudah berpindah ke telingaku.

Ketiga adalah ketika aku datang dan membacakan sebuah buku dongeng tentang planet-planet di tata surya. Bagiku kau terlihat seperti planet berwarna merah sedang aku yang kekuningan. Saat tersisa sembilan halaman terakhir, kau sudah tertidur. Ah... kau pasti lelah sehabis menonton pertandingan bola yang kau gilai itu. Kau tau? Setelahnya aku kembali membacakan buku dongeng itu untukmu, semoga sampai ke dalam mimpimu.

Kemudian yang keempat, ketika bus yang kutumpangi berhenti di terminal kotamu tapi aku kehilangan sebelah sepatuku. Aku tak bisa membayangkan menemuimu tanpa memakai sepasang sepatu. Bagaimana aku bisa berlari kemudian memelukmu tanpa melukai kakiku? Maka kuputuskan untuk membeli sepatu baru dan segera mendatangi kotamu lagi bulan depan. 

Kedatanganku yang kelima, adalah saat dimana aku mulai mengenal setiap lekuk kotamu yang kolasenya kau sembunyikan di balik selimut hijau di atas kasur. Maka kubiarkan diri tertidur di sana, bersama potongan-potongan cerita dari setiap pertemuan yang kau jadikan pelukan untuk menghangatkanku. 

Yang tersulit adalah kedatanganku yang keenam. Kehabisan tiket kereta, dan aku sangat merindukanmu. Maka kudatangi kotamu dengan menumpang pada titik-titik kecil air yang ditumpahkan awan yang sudah tak lagi angkuh dengan putihnya. Ya... begitulah aku menemuimu, di kotamu.

Dan ketika kau meminta untuk kutuliskan sebuah sajak tentang semua kedatanganku dijadikan satu, itulah semalam; kedatanganku yang ketujuh. Maka tahun ini telah kudatangi kotamu, tujuh kali. Untuk kedatangaku yang kedelapan tahun depan, maukah kau yang menjemputku; di kotaku?


Setelah tujuh purnama
05.12.12

Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Beginilah Seharusnya Mengeja Kita

7 comments
Jika ada dua nama kota
Yang meski di antaranya tertanam jeda ratusan kilometer
Tapi tetap saling meraih, hingga kemudian berpelukan
Itulah kota kita..

Jika ada sepasang sepatu
Yang bersamanya berarti berjalan di atas tanah kering
Atau berlari melewati genangan lumpur
Itulah kaki-kaki kita, langkah kita..

Jika ada sebatang pena
Yang berkawan dengan lembar-lembar kertas dalam buku
Itulah sajak tentang kita; kisah kita..

Jika ada sebuah masa
Dimana aku dan kamu tak lagi berarti dua kata yang berbeda makna
Maka itulah masa depan;
Kita..


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network
Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Kamu (Lagi-lagi)

7 comments
Kuharap itu kamu..
Yang menitipkan rindu pada tetes-tetes air
Yang jatuh dari langit
Biar aku kuyup, berhujan-hujan di bawahnya

Mungkin itu kamu..
Yang puisinya tertulis di atas lembar-lembar daun mahoni
Yang satu per satu gugur
Di sepanjang jalan pulangku menuju rumah
Hatimu...

Semoga itu kamu..
Yang setianya seperti ombak pada pantai
Biar aku berenang-renang di lautnya
Sampai tenggelam, sampai habis napasku

Kuharap itu kamu, Sayang..
Yang mengetuk pintu rumahku
Dan berdiri di depannya
Menjemputku...


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network
Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Ketika Aku Merindukanmu

5 comments
Bersamamu mungkin bukan tentang jari-jarimu yang mengait di sela jari-jariku. Bersamamu mungkin bukan tentang lutut-lutut kita yang bersenggolan ketika menikmati senja dari teras rumah. Mungkin bukan juga tentang kepalaku yang bersandar manja di bahumu, sambil dalam-dalam menghirup aroma parfum dari tubuhmu.

Bersamamu tidak selalu tentang tubuhku yang melesak dalam pelukanmu, dan kamu yg mencium keningku. Tidak selalu tentang aku yang melihatmu tertidur karena kelelahan, atau mataku yang mengekor pada garis-garis wajahmu. Bersamamu tidak selalu berarti tuntutan bagi jemariku untuk menyusuri setiap helai rambutmu, mengusap dahimu juga pipi dan dagumu setiap saat. Tidak juga tentang keharusan berbisik tepat di telingamu, "Aku menyayangimu..."

Bagiku, bersamamu saat ini adalah tentang tertawa mendengar leluconmu. Membacakan berlembar-lembar puisi untukmu, tentang rindu, jarak, atau mimpi. Bagiku, kebersamaan denganmu adalah ketika aku mendengarmu bersenandung, mengeluh, tertawa bahkan menggerutu. Dan aku masih tetap mendengarkan, dalam diam, dengan senyum yang tak bisa kamu lihat.

Tapi, Sayang... bersamamu kadang juga berarti ketakutanku akan ketidakmampuan menemanimu. Kekhawatiran akan betapa lemahnya aku yang tak bisa segera menjangkaumu sebelum yang lain melakukannya. Ya... bersamamu kadang bisa diartikan; keinginan untuk memonopolimu, hatimu.

Bersamamu adalah doa-doa yang yang kutulis di ujung jemari, yang kuangkat setelah sujudku sambil menyebut namamu. Aku yang bersamamu adalah banyak sekali puisi tentang kita dan cerita tanpa kata usai.

Bersama kamu, Sayang... adalah kita yang tak pernah lelah menanam rindu.


Ditulis pada tanggal cantik
Banyuwangi, 10-11-12


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network
Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Memeluk Kamu

9 comments
Aku ingin memelukmu
Dalam diamku
Dalam senyumku
Dalam kerjap mataku

Aku ingin memelukmu
Untuk setiap tawamu
Untuk setiap kecupmu
Untuk setiap jemari yang kau selipkan
Di sela-sela rambutku

Aku ingin memelukmu
Lewat gerimis 
Lewat matahari
Lewat seisi bumi-ku yang berotasi
Menjadikan kamu sebagai porosnya

Aku ingin memelukmu
Karena rindu
Karena cinta
Karena, ini kamu...


Ketika diam menyimpan sejuta kata
Banyuwangi, Oktober 2012

Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Sepertinya, Ini Puisi Rindu

8 comments
Bersamamu, aku belajar melipat rindu
Kusimpan dalam saku, dekat di jantungku
Biar berdetak ia tiap detik

Bersamamu, aku belajar meniup air mata
Biar ditimang angin pantai
Membumbung tinggi, ditangkap awan
Hingga luruh jadi gerimis sore hari

Bersamamu...
Aku belajar membuang kata-kata
Kulempar ke udara, kutimbun dalam tanah
Kuhanyutkan di sungai kecil belakang rumah
Atau kutitipkan pada matahari
sampai kering tak bersisa

Hingga benar tak ada lagi kata-kata
dan aku tak lagi bisa berkata-kata
Biar semesta yang membisikkan padamu,
Aku rindu...



Banyuwangi, 2012
Seminggu setelah 30 September

Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Padamu, Kutitipkan...

3 comments
Kamu adalah salah satu sudut pikirku...
Yang diterjemahkan lewat puisi-puisi di atas kertas putih. Lewat kata-kata mengawan yang kemudian kutangkap perlahan. Kusulam satu-satu menjadi sebaris namamu-namaku.

Kamu adalah pendongeng sebelum tidur malamku...
Dimana selalu ada rindu untuk dipulangkan ke sana. Dengan segera. Dengan tergesa. Dengan candu pelukanmu sebagai umpan, sedang aku perindu yang mengejar-ngejar. Hingga dapat. Hingga habis kulahap.

Kamu, sepenggal napas tersengal...
Yang tanpamu adalah senja tanpa jingga. Yang tanpamu, tak ada sajak bisa dimulai. Menguap, memuai sampai habis kata di udara.

Kamu separuh jiwa yang kutitipkan di lain kota...
Meski tak nampak, meski jauh mengaduh, masih akan kutunggu dengan sendu. Hingga waktu menjebak kita pada kerentaan.

Seperti potongan nada yang menjelma kidung asmara. Seperti itulah kamu, bagian masa depan yang tak mungkin tanpa aku.


Banyuwangi, 14 September 2012

Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Sederhana Saja

2 comments
Jika kau bertanya tentang dimana puisi-puisiku berada

Sederhana

Di kamu.


dari milik @celotehandri

Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Masih Milikmu

3 comments
Ini gara-gara pohon mangga sialan di samping rumahku. Bukannya aku tak menyukainya. Aku selalu menanti buah berkulit hijau kekuningan itu bergelantungan di setiap rantingnya. Aku tahu mereka butuh waktu yang cukup lama untuk akhirnya bisa sampai di meja makanku, di mangkuk rujak serut kesukaanku, di toples asinanku, atau di kantong-kantong plastik yang ku bagikan pada kerabat-kerabatku. Lima bulan. Bukan. Enam bulan. Bisa jadi lebih dari itu. Pokoknya lama.

Hari masih pagi saat aku tak sengaja melihat beberapa buah menggantung di salah satu ranting di pohon mangga itu. Entah sudah berapa lama dia berayun manja di sana. Kurasa sudah lebih dari dua minggu, terlihat dari ukurannya yang cukup besar dan ranting yang terlalu melengkung karena terlalu berat menahan beban. Biasanya aku senang bukan main melihat buah-buah ini siap dipetik. Bahwa akan ada lebih dari satu keranjang besar berisikan puluhan buah mangga. Hanya saja kali ini sepertinya berbeda. Buah-buah itu seketika mengingatkanku akan puisimu beberapa waktu kemarin. Puisi tentang pohon mangga di samping rumahku. Tentang halaman rumah tempat pohon manggaku tumbuh yang belum sempat kau tengok, tentang betapa kau ingin tahu sebesar apa pohon ini, bagaimana rasa buahnya, atau seberapa rindang dahan dan rantingnya saat kamu duduk di bawahnya, sambil menulis puisi-puisi dalam buku kecilmu. 

Puisi yang kau kirimkan padaku itu, entah ditulis berapa bulan yang lalu. Tapi seingatku, puisi itu ku baca saat buah mangga di pohon samping rumahku ini sedang ranum-ranumnya. Kemudian aku tersenyum-senyum sendiri sambil membayangkan kita yang akan duduk di bawahnya, bercerita macam-macam. Bisa jadi sambil memilih-milih buah di ranting mana yang akan kita petik. Dan lihatlah... pagi ini buah-buah itu sudah mulai ranum lagi. Kurasa ini sama artinya dengan lebih-dari-dua-musim-kita-tidak-bertemu. Bukankah begitu? 
Sudah lebih dari dua musim. Dan rindu ini masih milikmu. 

Aku lupa kapan terakhir kali kau menjanjikan sebuah kedatangan padaku. Yang aku ingat, kau selalu menjanjikan puisi-puisi dimana hanya kita yang tau maknanya. Puisi tentang pohon mangga yang kau tulis itu hanya salah satunya. Entah ini perlu kau percaya atau tidak, tapi lebih dari apa yang kau tulis dalam puisimu. Dalam hati aku menunggumu. Bahkan dalam benak pun, aku masih menunggumu, meski entah harus melewati berapa musim lagi. Sambil menatap pohon mangga yang kokoh berdiri di hadapanku ini, aku bertanya, "Bila rindu ini masih milikmu, maka harus berapa lama aku menunggumu?"


Banyuwangi, 5 September 2012
Inspired from Menunggumu - Chrisye feat. Ariel


Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Antitesis

1 comments
Ada kalanya aku ingin berhenti menulis tentangmu.
Tentang kamu yang menggilai Juventus.
Tentang Pro-Evolution yang menjadi jadwal mingguanmu.
Tentang betapa menggelikannya kamu (bagiku) yang dengan mudah tertidur semenit setelah mendengarkan musik metal.
Juga tentang sajak-sajak yang kamu puji indahnya tanpa benar-benar kamu pahami maknanya.

Aku ingin berhenti menulis tentangmu yang menulis tentangku.
Tentang ketidaksukaanmu pada teh seduh.
Tentang kamu yang menyukai senja dan langit sehabis subuh.
Tentang betapa kamu sempat sangat dihantui oleh angka tiga puluh.
Atau tentang kamu yang gemar memukul udara dengan stik drum, berpura-pura menjadikannya gaduh.

Aku ingin berhenti menulis tentangmu. Tapi lihatlah, pada akhirnya tulisan ini tetap tentang kamu. Ahh.., mungkin memang aku belum bisa berhenti.


Banyuwangi,
14 Agustus 2012

Sent from my BlackBerry® via Smart/EVDO Network.
Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Paranoid

0 comments
Jadi ini rencananya, besok lusa kita akan bertemu. Pertemuan pertama. Tentu saja setelah melewati empat purnama, puluhan malam bercerita segala rupa, juga ratusan percakapan lewat udara. Bisa dikatakan ini rencana paling aku tunggu sejak kali pertama aku membaca sajakmu. Ya, sajakmu, puisimu atau apalah namanya, semua yang kau tulis yang membuatku jatuh hati pertama kali. Bukan, bukan pada sosokmu. Aku jatuh hati pada setiap kisah yang kau sisipkan di bait-bait puisimu. Pada pilu yang kau selipkan di tiap tulisan yang kau tipu dengan label fiksi. Aku jatuh hati pada kata-kata yang kau beri nyawa.

Tak butuh waktu lama bagiku untuk akhirnya menemukanmu di dunia selain puisi tertulis. Kita kemudian berbagi cerita, berbagi lagu, juga tertawa bersama. Aku mendengar suara terjagamu bahkan hingga kau jatuh terlelap. Kau mendengarku menangis sekaligus menenangkanku. Kita berbagi puisi, bertukar judul buku, film, makanan kesukaanku, hingga club sepakbola favoritmu. Dan aku menikmati setiap momennya. Segalanya mudah bagiku. Begitu mudahnya hingga aku jatuh hati untuk yang kedua kalinya. Sayangnya, kali ini pada sosokmu, yang belum pernah kudapati nyata hadir di depan mataku.

Hanya saja pagi ini aku merasa sial. Kau baru saja memberitahuku tentang klasifikasi wanita pujaanmu. Dan coba tebak, dari sepuluh hal yang kau sebutkan, aku nyaris tidak termasuk dalam klasifikasi manapun. Kau hanya bilang bahwa suaraku cantik ketika bernyanyi, puisi-puisiku indah saat kau baca, dan kegemaranku memasak hanya kau jadikan poin plus. Selebihnya, tinggi badan, bentuk tubuh, warna kulit hingga rambut pun nyaris tidak berbanding lurus dengan kualifikasi wanita yang pantas kau puja.

Besok lusa kita akan bertemu. Pertemuan pertama. Dan kau baru mengatakan segala tentang wanita impianmu pagi ini. Percayakah kau jika kukatakan yang melekat padaku justru hal-hal yang kau benci? Kau benci wanita berambut pendek. Kau benci wanita dengan jins belel dan sepatu keds. Kau benci wanita ber-eyeliner, seperti penyihir katamu. Hey... wanita itu aku. Dan aku benci mendapati diriku mulai jatuh hati padamu, sedangkan kau (kupikir) akan membenciku dibanding balik jatuh hati padaku.

Lalu, bagaimana jika benar kau akan membenciku? Bagaimana jika puisi indahku tidak mampu mengalahkan kebencianmu pada gaya berpakaianku? Bagaimana jika nyanyian merduku tak mampu meredam ketidaksukaanmu pada rambutku, atau penampilanku? Atau yang terparah yang mungkin terjadi, kau akan memilih untuk tidak mengenalku lagi. Tidak. Aku tidak akan membiarkan kau menaruh rasa tidak suka padaku meski hanya seujung kuku.

Jadi di sinilah aku sore ini. Memaksa diriku sendiri melakukan hal yang kupikir tidak akan pernah kulakukan. Salon. Beberapa jam kedepan aku akan keluar dari tempat ini dengan rambut panjang berwarna kecoklatan. Satu dari sepuluh hal yang kau suka. Di samping kursi hitam yang kududuki ada dua buah paper bag hasil berbelanjaku barusan. Satu kantung berisi mini dress dan bolero, sedang kantung lainnya berisi high heels, wedges tepatnya. Anggap saja, kau tidak perlu melihat jins belel dan sepatu kedsku yang warnanya mulai memudar itu.

*** *** ***

Mini dress berwarna fuschia pucat beraksen bunga-bunga kecil diujungnya dan bolero ungu anggur kini melekat di tubuhku. Kedua kakiku juga telah kujejalkan pada wedges warna senada yang membuat tubuhku sepuluh senti lebih tinggi. Kali ini kupastikan rambut kecoklatanku tergerai sempurna. Memeriksa setiap sambungannya, aku tidak ingin ada satu ikatan pun yang lepas saat bertemu denganmu nanti. Mataku terlihat sangat oriental tanpa eyeliner, satu hal yang sebenarnya tidak aku suka. Tapi aku masih punya satu sentuhan akhir, softlense berwarna coklat gelap. Seperti yang selalu kau katakan tentang betapa cantiknya mata seorang wanita yang berwarna coklat. Kini aku memilikinya. Hampir semuanya.

Kau baru saja meneleponku dari parkiran luar. Tidak sampai sepuluh menit kedepan kita akan saling menemukan. Sejujurnya, aku benci menjadi seperti ini. Benci melihat diriku yang terpantul di kaca gelap sebuah counter fashion di depanku. Tapi aku akan lebih benci jika kau sampai tidak jatuh hati padaku. Aku tidak peduli seandainya kau nanti muncul dengan penampilan yang tidak memenuhi kualifikasiku. Aku tidak peduli jika nanti aku memutuskan untuk tidak lagi jatuh hati padamu. Aku bahkan sangat tidak peduli seandainya setelah pertemuan ini aku yang akan menaruh rasa tidak suka padamu. Tapi kau? Kau harus jatuh hati padaku. Kau harus menyukaiku lebih dari kemarin.

Sekali lagi kupastikan rambutku rapi. Menatanya agar tidak ada satu ikatan pun yang terlihat dari luar. Aku tak ingin kau tahu bahwa ini ekstensi.


I make the most of all this stress
I try to live without regrets
But I'm about to break a sweat
I'm freaking out

PARANOID - JONAS BROTHER

Banyuwangi
Dalam imajinasi

Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Deduksi Depresif

0 comments
Aku ini cenayang. Setidaknya bagi diriku sendiri jika kau tak percaya.

Aku cenayang ketakutan. Menangis diam-diam malam-malam. Mengais sesak juga penat pada abu-abu masa kelak.
Aku cenayang dalam sepi. Merenungi lara dalam luka. Meratapi segala upaya pada kata 'mungkin'; yang mungkin terjadi, mungkin tidak.
Aku cenayang kebingungan. Mana nyata aku tak peka. Mana angan aku tak jeli. Aku hanya ada di masa kini. Masa aku belum mengerti, belum teryakini.

Mungkin, inilah aku cenayang ketakutan. Menoleh pada suram aku tak kuasa. Mendongak pada kelam aku tak punya daya. Bisakah kusangkal saja?
Aku, cenayang ketakutan saat bola kristal berulah. Pertunjukannya sedang tak indah. Tak bisa kupilah. Lalu aku terseok dalam gundah, dalam gelisah.

Aku ini cenayang. Setidaknya bagi diriku sendiri jika kau tak percaya. Tapi nanti, saat aku mulai lupa; semoga kau membantuku. Ingatkan aku yang pernah mengingatkanmu bahwa aku ini cenayang. Aku hanya menyangkal, tentang masa yang belum datang.



Banyuwangi
10 Agustus 2012

Sent from my BlackBerry® via Smart 1x / EVDO Network.
Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Perkara Memikirkanmu

3 comments
Malam ini aku habis. Penuh memikirkanmu.

Aku memikirkanmu yang (akan) lamat-lamat berjalan ke arahku. Entah dimana. Di sepanjang peron, mungkin. Atau di tengah hingar terminal bus. Bisa juga di antara riuhnya bandara. Saat dimana kita saling menjemput. 

Aku memikirkan kamu yang (akan) menggenggam tanganku di malam perjamuan kita. Dengan secangkir kopi hitam tanpa gula dan segelas cappucino ice dalam gelas kaca. Lalu tumpahkan cerita tentang segala. Dari awal hingga habis kita. 

Aku memikirkanmu. Kamu (akan) mengacak-acak rambutku, lagi aku menggamit lenganmu. Aku juga memikirkan (akan) tenggelam dalam pelukmu. Sambil tertawa, hingga rebah tertidur. Itu pun setelah berjam-jam kita menghabiskan waktu berkelana di seputaran kota. 

Aku memikirkan bagaimana kita (akan) tersenyum membilang detik-detik menuju kepulangan kita. Kamu ke barat, aku kebalikannya. 

Pada akhirnya, aku memikirkan betapa aku akan merindukanmu setelahnya, dan bahwa kelak kamu akan menjemputku di timur. Membawa segenap aku ke dalam seluruhmu.

Malam ini, selebihnya...
Aku memikirkanmu, memikirkanku.



Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Khayalan Tingkat Tinggi

6 comments
Garis tangannya
Waktu berhenti apabila kumemandangnya
Mengagumkan
Melemahkan aku melihat tatap matanya


***


Tangan pria itu menari diatas kanvas, memberi goresan-goresan halus pada sesuatu yang tadinya berwarna putih gading. Sesekali ia tersenyum pada lukisannya, berdecak kagum pada apa yang hampir ia selesaikan. Kadang pula ia menerawang, matanya menatap langit-langit ruang minim cahaya yang ia sebut studio lukis di rumahnya yang tak seberapa besar.

Sebentar ia terkekeh, tangannya sedikit mengambang di udara mengikuti garis wajah lukisan dalam kanvas. Seorang gadis jelita menawan mata, Cinta. Gadis terelok yang pernah Tuhan ciptakan untuknya, bahkan mungkin untuk semua pria di muka bumi. Cinta jelita. Entah ini lukisan keberapa yang ia buat untuk Cinta yang selalu merajuk manja untuk dilukis dalam berbagai irama. Meminta si pria untuk mengabadikan setiap lakunya, senyumnya, pejam matanya di atas bantal putih, lambai tangannya di udara, atau basah rambutnya sehabis mandi. Entah lukisan keberapa, ia tak peduli, ia bersumpah akan terus melukis Cinta hingga mati.

Kali ini kuasnya sampai pada jemari Cinta. Jemari lentik yang selalu Cinta sisipkan di sela rambut pria yang lebih sering dibilang acak-acakan itu. Jemari itu juga yang selalu ia genggam saat malam sudah kelewat pekat. Satu per satu di lukisnya jemari Cinta dengan hati-hati, tak ingin membuat cacat walau setitik pada lukisannya.

Cinta...


Cinta...


Cinta...


Berulang-ulang sampai hampir usang ia menyebut nama kekasihnya. Kali ini senyumnya pongah diikuti dengan badannya yang perlahan duduk tegak, setelah hampir empat jam kelelahan membungkuk dan mendekatkan mata pada kanvas, demi melihat setiap detail wajah Cinta. Siapa bakal habis pikir, melihat pria yang dibilang bujang lapuk dengan penampilan yang lebih sering minus dan penghasilan yang nyaris tak ada mampu menawan hati seorang Cinta. Cinta yang sempurna, bahkan diantara ketidaksempurnaan paling manusiawi sekalipun, Cinta tetap yang paling tak punya cela.

Pria-pria bangsawan dengan wajah rupawan dan mobil berkilau menawan sekalipun belum tentu mampu meraih Cinta. Membuat Cinta sekadar menoleh pada merekapun menjadi sebuah pekerjaan yang luar biasa pelik. Cinta terlalu sederhana untuk mereka yang menyandarkan segala kerumitan hati pada materi, sepertinya. Cinta memilih diam pada jiwa yang menafkahinya dengan rindu, dengan pelukan tergesa yang menenangkan, juga kecup tanpa paksaan yang memabukkan. Cinta selalu punya caranya sendiri untuk memilih pria yang akan ia cintai.

Pria dengan kuas di tangan, kaus belel penuh cipratan cat minyak yang lebih sering berkubang dalam ruang sempitnya ketimbang bekerja mencari sedikit rupiah ini yang menjadi pilihan Cinta. Perawan jelita tanpa cela. Sedangkan pria-pria adiwangsa memperebutkan jalan menuju Cinta, ia tetap tak bergeming. Cinta yang jelita, Cinta yang senyumnya bagai candu duniawi, yang langkahnya membuat jejak surgawi, yang tatap matanya melemahkan hati. Cinta yang lagi-lagi kini dilukisnya tanpa jenuh, tanpa mengeluh.

Sedikit lagi pria itu menyelesaikan karya cantiknya, sedikit lagi Cinta akan kembali melihatnya. Pria itu yakin Cinta akan sangat senang menerima satu lagi lukisan, Cinta tak pernah menerima hadiahnya dengan wajah muram, ia selalu tersenyum elok mengagumkan.

Garis-garis hitam ia tegaskan pada lukisannya, membingkai wajah Cinta dengan rambut panjang tergerai yang tertiup angin sore. Senyumnya mengembang diantara pipi yang bersemu malu. Kaki-kaki jenjangnya menghempas pasir. Jemarinya yang sedikit basah sedang menangkap angin. Aahh...apa yang kurang dari sosok Cinta, ia terlalu sempurna. Bahkan kecantikannyapun tetap menyilaukan walau dalam temaram senja.

Cinta... ia tak pernah henti memesona setiap pria terutama si pria pelukis. Tak ada hari yang ia lewatkan tanpa Cinta, meski hanya di rumahnya yang berantakan, di studio lukisnya yang pengap, atau di kamar dengan dipan yang kehabisan kapuk. Cinta selalu ada di dapur yang jarang mengepul, juga di teras tanpa halaman sambil menanti senja. Cinta selalu menemaninya, hampir setiap waktu. Tertawa atau menangis, kenyang atau lapar, terjaga bahkan tidur. Cinta yang diimpikan semua pria, malah rela menghabiskan sisa usianya bersama pelukis tak laku tanpa masa depan secerah langit pagi. Cinta tetap di sana.

Diusapnya peluh di dahi sambil menghela nafas, puas. Lukisan itu usai dirampungkan. Tinggal membubuhkan tandatangan dan sedikit pesan cinta di ujung bawah lukisan. Sejenak tangan kirinya mencari tombol on pada radio sedang yang kanan kembali mengusap peluh. Suara gemirisik terdengar sebelum tepat sebuah request seorang pendengar diputarkan.

"Khayalan ini setinggi-tingginya 
Seindah-indahnya
Tempat ku memikirkannya"


Diam. Pria itu menoleh pada radio usang di balik punggungnya.

"Lagu ini..." Ia bergumam. Khayalankah?

Bergantian dipandanginya lukisan Cinta dalam senja dan radio abu-abunya. Matanya mengerjap-kerjap, mozaik-mozaik yang tercecer di otaknya mulai tersusun lebih rapi.

"Cinta? Cinta?!" Sambil sedikit berteriak ia melotot pada lukisan yang baru saja ia selesaikan. Dipegangnya setiap ujung kanvas yang tak lagi putih gading itu, diguncang-guncangkannya sambil berharap ada sesuatu yang fantastis terjadi. Hening. Hanya ada ia dan puluhan lukisan Cinta dalam ruangan yang diam tak bersuara.

Kali ini ia pandagi cermin di retak di sudut ruangan. Dirinya masih sama, berkaus lusuh dengan percik cat minyak murahan disana sini, wajah yang tak terawat dan rambut acak-acakan. Dirogohnya kantong saku celananya yang berwarna pudar, kosong, tak ada uang sepeserpun. Perutnya keroncongan lapar. Dipegangnya perut yang mulai berontak meminta nasi barang sesuap sembari lamat-lamat menatap lukisan Cinta.

"Ahh... Cinta... Kapan kau akan keluar dari dalam sana? Kapan kau akan jadi nyata?"

"Bila ku dapat ku simpan wajahnya
Memegang indahnya
Berpura memilikinya"


"Cinta... Bisakah kau tak hanya sekedar lukisan?





Terinspirasi dari  sebuah lagu yang di populerkan oleh Peterpan
Khayalan Tingkat tinggi

Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

KAMU

5 comments
Kamu, senjaku...
Jingga yang kunanti diam-diam
Selayak segar jus jeruk yang tumpah di kerongkongan

Kamu, purnamaku...
Yang lingkarnya kuandaikan bola di matamu
Menatap lekat menujuku dari langit berpendar bintang

Kamu, fajarku...
Laksana sinar matahari pagi
Yang menyusup masuk lewat sela jendela kamarku
Yang hangatnya meronakan pipiku malu-malu

Kamu, gerimisku...
Pada tiap tetesnya mengalun nyanyian asmara
Tiap tetesnya; menyembunyikan air mata
Tentang rindu tiada tara

Kamu, bagiku
Semesta...



02.30 
8 Juli 2012
Saat tak mempan merayu kantuk

Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Kisah di Suatu Ketika

3 comments
Ini kisah dua purnama
Di bulan panca, hari kelima

Seorang pria pada wanita
Ditawarkannya hati untuk ditinggali
Disuguhkannya rasa agar dieja

Lalu sang wanita pada pria
Diberinya jawab dengan harap
Disajikannya jiwa untuk ditautkan
Untuk diterka
Pada ujung mana kisah ditamatkan

Antara nyata dan maya
Usai berlalu dua purnama
Sampai di bulan sapta, masih hari kelima
Kisah mereka; pria-wanita tetap bernyawa
Yang dijelma suatu ketika
Hingga kini jadi kita


5 Juli 2012
Another month has been passed

Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Sebatang Pohon

1 comments
Aku merindukanmu
Sebatang pohon yang rindang

Berbagi cerita tentang segala
Menangisi malam yang ditukar pagi
Menertawakan setiap musim berganti
Panas hingga semi
Aku dan kamu ini

Aku merindukanmu
Yang mengganggu malam-malam tidurku
Dengan ranting juga daun kering
Mengetuk berisik jendela kamarku
Tapi ajaibnya...
Aku selalu mampu memaksa diri terjaga
Mendengar kisah tentangmu, tentang penebang pohon
Tentang pengagum bungamu
Tentang matahari yang menyengat
Atau rintik yg mampir di tubuhmu yang cantik
Ya...kamu selalu cantik

Sempat aku dan alpaku mengusikmu
Tak sengaja mencabut paksa bungamu yang cantik itu
Hanya sedetik setelahnya, kemudian aku menunduk lesu
Kamu...terluka, dan tak perlu aku tanya
Aku sudah terlalu mengenal kamu siapa

Ulang, kusambangi sebatang pohonku yang tercantik
Membawakanmu sebingkis maaf
Entah terbayar entah tidak

Sayangnya...
Bunga itu tak kunjung menuai semi
Kamu seperti tak melirik ke arahku sini

Sekali...
Dua kali...
Lalu aku berhenti
Ah...kamu masih begitu murka, mungkin

Lalu kuputuskan untuk menunggumu
Melewati musim gugur
Menanti musim semi
Berharap ada kuncup-kuncup yang merekah dengan sudi
Sambil terus mencuri pandang kearahmu
Memastikan kamu baik-baik saja tanpa gangguanku

Oh iya... aku selalu menitipkan salam pada Tuhan
Lewat hembus angin
Noktah-noktah gerimis
Juga hangat matahari pagi
Semoga sampai padamu

Nanti, jika bunga itu merekah merah lagi
Tolong beri tahu aku
Ketuk saja jendela kacaku di malam hari
Dengan ranting atau daun kering

Aku merindukanmu sebatang pohon yang rindang
Aku merindukan berteduh di bawahmu
Hingga tertidur



I miss you a lot, I do
June, 25th 2012

Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Surat Untuk Ayah

9 comments
Dear, Ayah...

Selamat pagi, Ayah. Apa kabar? Ayah sehat kan? Maaf ya aku mengganggu waktu bekerja Ayah, padahal ini hari Senin. Ayah pasti sedang sibuk, ya? Aku cuma ingin berbagi cerita pada Ayah, sekali-kali boleh kan, Yah? Setiap hari aku cuma main bersama Ibu. Ibu sering menceritakan banyak hal padaku. Kebanyakan sih tentang Ayah, yang cuma bisa kukenal lewat cerita-cerita Ibu. Aku juga ingin lebih mengenal Ayah, itulah mengapa aku menulis surat ini. Semoga Ayah tidak bosan membacanya, ya.

Ayah...
Asal Ayah tahu, aku dan Ibu selalu menghabiskan waktu berdua. Tidak pernah sedetikpun Ibu meninggalkanku. Aku selalu ada di dekat Ibu saat Ibu berdoa pada Tuhan. Berlarian di sekitar dapur ketika Ibu memasak ayam goreng kesukaanku. Aku juga selalu menempel pada Ibu saat Ayah menelepon, mendengarkan suara Ayah yang belum pernah kutemui. Aku suka mendengar suara Ayah. Tapi maaf ya, Yah, aku tidak pernah bisa ikut berbicara pada Ayah.

Yah...tidak tahukah Ayah betapa Ibu merindukan Ayah? Kurasa Ibu sangat ingin bertemu Ayah. Tidak tahukah Ayah, di setiap telepon Ayah, Ibu selalu menyimak segala yang Ayah kisahkan. Mendengarkan dengan seksama seakan-akan Ayah berbicara di hadapan Ibu. Tidak tahukah, bahwa Ibu selalu menyusupkan senyum, yang tak pernah Ayah lihat.
Sambil memelukku...

Ayah yang kusayang...
Aku mungkin belum memahami mengapa Ayah tidak kunjung bertemu Ibu. Mengapa hanya ada aku dan Ibu di sini. Tanpa Ayah. Tapi yang aku mengerti, Ibu selalu menyayangi Ayah. Menyebut nama Ayah dalam setiap doanya di tiap-tiap malam. Bahkan ada saat-saat dimana Ibu menahan tangis karena keinginan bertemu Ayah yang kadang tidak Ibu sampaikan. Apa Ayah tidak ingin bertemu Ibu?

Ibu bilang, Ayah suka puisi. Pernah pada beberapa malam aku mendapati Ibu menuliskan sesuatu di bukunya. Katanya itu puisi buat Ayah. Aku tidak begitu mengerti isi puisi Ibu, yang aku tahu puisi-puisi Ibu adalah sebentuk cinta untuk Ayah. Dan Ayah selalu suka puisi-puisi yang ditulis Ibu, kan? Kata Ibu, Ayah mungkin tidak akan menyukai Ibu kalau saja Ibu tidak bisa menulis. Jadi mulai sekarang aku akan belajar menulis puisi seperti Ibu, untuk kemudian kukirimkan kepada Ayah. 
Aku juga ingin jadi anak yang disukai Ayah.


Ayah...
Ibu sempat bilang padaku, Ibu takut kehilangan Ayah. Takut Ayah selingkuh. Memangnya selingkuh itu apa sih, Yah? Kata Ibu, selingkuh itu berarti Ayah jalan-jalan bersama seorang Tante yang tidak kukenal dan berbohong pada Ibu. Begitukah, Yah? Ehm...kalau begitu, jangan berbohong pada Ibu ya, Ayah. Jangan selingkuh. Nanti kita jalan-jalan bertiga saja, aku, Ayah dan Ibu. 

Kata Ibu, saat ini Ayah ada di tempat yang jauh dari kami. Di tempat Ayah sana, banyak Tante cantik yang mungkin selalu mengajak Ayah bermain. Seperti Ibu mengajakku bermain. Ibu takut, Yah. Takut kalau Ayah akan melupakan Ibu dan aku. Tante yang di sana kan lebih cantik dari Ibu. Apa iya, Yah? Padahal  menurutku Ibu sudah cantik, meskipun dengan celemek masaknya yang agak kotor terkena cipratan minyak. Tapi Ibu bisa membuat masakan yang enak-enak. Memang Tante yang di sana bisa memasak seperti Ibu?

Ayah yang kurindukan...
Aku ingin sekali mengobrol dengan Ayah. Ingin mendengar cerita Ayah tentang Ibu. Apakah cinta Ayah pada Ibu seperti cinta Ibu pada Ayah? Soalnya, di setiap telepon Ayah pada Ibu yang selalu ku curi dengar, Ayah tidak pernah bilang bahwa Ayah menyayangi Ibu, atau merindukan Ibu. Pernah sih aku mendengar kata rindu dari Ayah untuk Ibu, tapi rasanya sudah lama. Akhir-akhir ini sepertinya sudah tidak pernah lagi. Padahal aku sering melihat Ibu mendoakan Ayah. Itu tandanya Ibu mencintai Ayah, kan? Ibu selalu berbicara pada Tuhan, meminta agar Tuhan menjaga Ayah supaya Ayah bisa segera bertemu denganku. 

Ayah...
Sebenarnya semalam, tanpa sepengetahuan Ibu, aku mengintip buku Ibu. Di lembar terakhirnya, aku membaca sebait tulisan Ibu, sepertinya bukan puisi, tapi aku ingin Ayah juga ikut membacanya. Dalam tulisannya Ibu berkata,

"Kepada kamu, pria yang kucintai...
Aku mulai takut kamu tidak sungguh-sungguh bahagia bersamaku. Aku mulai takut rindu itu semakin terkikis karena pertemuan kita yang tidak kunjung terlunasi."

Ibu takut ya, Yah? Takut Ayah tidak bahagia, memangnya begitu?
Ayah... ada bekas tetesan air mata di buku Ibu. Mungkin Ibu sedih, Yah. Ibu sangat merindukan Ayah sepertinya. Aku juga.

Saat aku mundur satu halaman kebelakang, aku menemukan tulisan Ibu lagi, yang kurasa harus Ayah baca.

"Pria yang kurindu...
Jika kamu menemukan wanita lain di sana yang bisa menawan hatimu lebih dari padaku. Tak apa. Jangan merasa bersalah karena (mungkin) kamu akan membohongiku. Sungguh aku tak apa. Jangan melarang dirimu untuk tidak bersama wanita lain yang candunya lebih memikat dari padaku. Kalaupun wanita seperti itu muncul dihadapanmu, sambut saja dia. 
Dan jika kamu memang tak ingin bersamanya, aku harap bukan karena (bagimu) aku terlalu baik. Tapi karena kamu mencintaiku. Bukan karena alasan lain."

Ayah...
Aku mulai menemukan banyak pertanyaan berputar di kepalaku. Apa Ayah tidak bahagia bersama Ibu? Apa tidak cukup bagi Ayah memiliki Ibu yang begitu menyayangi Ayah. Mencintai Ayah. Tidakkah Ayah merindukan Ibu seperti Ibu rindu Ayah? Tidakkah Ayah menyanyangi Ibu seperti Ibu yang selalu menyayangi Ayah. Ayah suka puisi-puisi Ibu kan? Kalau saja Ibu tidak bisa menulis, apakah dulu Ayah akan menyukai Ibu? Bagaimana jika Ibu berhenti menulis sekarang? Apa Ayah akan memilih untuk tidak bersama Ibu lagi? Jika Ibu tidak menjadi wanita yang baik pada Ayah, apa Ayah akan bersama Tante yang ada di sana? Yang lebih cantik dari Ibu. 

Maaf ya Ayah..
Aku mulai bawel, menanyakan hal yang mungkin tidak akan Ayah berikan jawabannya untukku. Aku hanya tidak ingin melihat Ibu bersedih. Aku tidak mau melihat Ibu menangis karena takut kehilangan Ayah. 

Ayah...
Boleh aku meminta sesuatu? Kali ini aku tidak akan meminta Hot Wheels, kok. Aku juga tidak meminta Jersey. Aku cuma minta, maukah Ayah menelpon Ibu? Sekarang. Katakan Bahwa Ayah menyayangi Ibu. Merindukan Ibu. Bahwa Ayah bahagia bersama Ibu, meskipun belum waktunya untuk Ayah dan Ibu bertemu. Katakan bahwa Ibu tidak perlu takut akan apapun. Yakinkan saja Ibu, bahwa hati Ayah selalu Ayah titipkan pada Ibu. Bahwa Ayah juga ingin segera bertemu denganku. Jagoan Ayah. Juga calon puteri kesayangan Ayah, calon Adikku.
Aku rasa itu akan membuat Ibu lebih tenang.

Aku tidak tahu apakah Ayah akan mengabulkan permintaanku atau tidak. Aku akan berdoa pada Tuhan saja, semoga Tuhan menyampaikan pada Ayah agar Ayah meluluskan permintaanku. 

Oh ya, Ayah. Jangan bilang pada Ibu aku menulis surat ini untuk Ayah, ya. Nanti Ibu mengomel padaku, seharusnya kan ini jam untukku belajar. Nanti jika aku sudah bisa menulis puisi seperti Ibu, aku akan mengirimkannya pada Ayah, tunggu saja ya, Yah.


Peluk cium
yang akan selalu mencintaimu


- Taras -

Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Dear Mars #2...

1 comments
Hai Mars...
Apa kabar? Boleh beritahu aku, dimana kamu mengorbit sekarang?
Aku rasa kamu masih berada jauh dari porosku, sepertinya begitu. Kalaupun kamu masih tertahan di Janubi sana, tak apa. Setidaknya kali ini bukan lagi bersama Saturnus atau Pluto, kan?

Mars...
Sungguh, aku berharap bisa menawarkan tilam untukmu menelentangkan rindu, dekat di sini. Semacam kutub lain mungkin, yang kemudian membegal pergi hatimu agar tidak lagi berlama-lama disana.
Setidaknya agar kamu semakin dekat denganku. Semakin cepat bertemu aku. Ya, begitulah.


Tertanda
-Venus-
Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Senja Di Wonokromo

5 comments
Dia bilang namanya, Na. Singkat ya. Aku memanggilnya Mbak Na. Soal siapa dia, aku sama sekali tidak tahu. Apalagi soal dia dari mana. Dia menyebutkan nama kota yang katanya ada di ujung timur pulau Jawa. Hm...memangnya timur itu mana? Aku buta arah. Tapi ya sudahlah, toh aku juga tidak akan pernah bisa melihat kota itu. Jadi, Mbak Na ini asalnya dari kota yang sangat jauh. Kira-kira sih begitu. 

Dari suaranya, Mbak Na ini pasti jago menyanyi. Dia punya suara yang bagus menurutku. Meskipun tanpa microphone, aku masih bisa mendengar jelas dia berbicara diantara bisingnya suara Kereta Api yang seliweran nyaris tanpa jeda. Membuat nyanyianku wajib kuhentikan tiba-tiba karena PPKA-nya harus menyiarkan pemberitahuan pada orang-orang yang di stasiun soal kedatangan juga pemberangkatan Kereta Api. Seringnya sih saat aku tengah asyik-asyiknya melantunkan lagu-lagu yang kata orang adalah lagu dewasa. Bukan lagu anak-anak. Bukan lagu yang pantas dinyayikan oleh anak seumuranku. Ahh...biar saja, kalau bukan lagu-lagu itu yang kunyanyikan, lalu makan malamku nanti kubeli dengan uang yang mana?

Baru beberapa menit yang lalu, Mbak Na bertanya padaku, pertanyaan klasik, pertanyaan yang umum dialamatkan pada seorang anak sepertiku. Soal sekolah. Kubilang saja aku sudah lulus SD. Ya, aku baru lulus Sekolah Dasar beberapa bulan yang lalu. Perkara melanjutkan ke SMP atau tidak, rasanya aku sudah tidak begitu memperdulikannya lagi. Sebenarnya aku mau saja melanjutkan sekolah. Hanya saja, aku punya dua pertanyaan besar yang jawabannya kutuntut bisa memuaskan diriku. Pertama, uang dari mana? Kedua, sekolah yang mana? Itu saja. Dan jawabannya? Belum kudapatkan.

Aku tadi bilang, bahwa semasa SD, aku selalu masuk peringkat tiga besar. Kata Mbak Na berarti aku anak yang pintar. Hehe. Begitu ya? Dia bilang aku seharusnya bisa melanjutkan sekolah. Sayang, katanya. Ahh... Mbak Na ini, hidupku kan tidak semudah itu. Lagipula, aku suka menyanyi, sangat suka. Aku tidak akan bosan menyanyi di sini. Meskipun di sini berisik, bising, juga kadang ada gaduh suara orang-orang lalu lalang, tapi aku suka menyanyi di tempat ini. Dan karena aku tidak bisa lagi untuk sekedar belajar di sekolah, jadi lebih baik aku belajar menyanyi saja di sini. Kata Mbak Na kan suaraku bagus, ya?

Lagi-lagi suara menderu Kereta Api datang menginterupsi obrolan kami, tapi tetap, suara Mbak Na bisa aku dengar dengan jelas. Suara merdu lain yang mampir di telingaku setelah kedua Ibuku. Mbak Na sempat heran, bagaimana bisa aku punya dua Ibu. Kubilang saja mereka bukan Ibu kandungku. Ibu yang melahirkanku sudah meninggal dunia.

Ada hening sejenak setelah itu. Mungkin Mbak Na merasa kasihan ya? Lalu Mbak Na bertanya lagi soal Ayahku. Dia kira Ayah menikah lagi dengan salah satu Ibu angkatku ini. Bukan. Ayahku yang itu, yang tadi memainkan Orgen itu, dia juga bukan Ayah kandungku. Ayah kandungku juga sudah meninggal dunia. Aku sudah tidak punya orang tua kandung. Aku yakin, pasti Mbak Na ini sedang kasihan padaku lengkap dengan tatapan penuh iba juga, sama seperti orang-orang kebanyakan. Apalagi saat akhirnya Mbak Na sampai pada pertanyaan tentang di mana aku tinggal.

Sebenarnya ada sebuah rumah yang dulu kutinggali bersama kedua orang tua kandungku di Porong, tapi itu sudah lama sekali. Sekarang katanya rumah itu sudah tidak lagi ada. Tapi itu bukan karena kedua orang tuaku sudah tidak tinggal di sana lagi. Orang-orang bilang, rumahku jadi salah satu yang terendam lumpur Lapindo. Aku saja sampai sekarang tidak tahu lumpur Lapindo itu seperti apa. Yang aku tahu, lumpur itu adalah semacam air bercampur tanah kental kasar yang tergenang di jalan bekas hujan yang membuat kakiku kotor waktu tidak sengaja menginjaknya. Memangnya sebanyak apa sih lumpur Lapindo itu, sampai bisa menenggelamkan rumahku? Padahal itu satu-satunya monumen kenangan tentang keluargaku. Meskipun aku tidak bisa benar-benar melihatnya, setidaknya jika rumah itu masih ada, aku bisa berdiam di sana. Mencium wangi khas rumah tempatku menghabiskan masa balita, dan mendengarkan suara-suara Ayah dan Ibu dalam ingatanku.

Aku sebenarnya ingin sekali melihat raut wajah Mbak Na. Seperti apa ya orangnya. Apa dia cantik? Tinggi? Baju apa yang dia pakai? Apa dia sedang tersenyum sekarang? Mengapa tiba-tiba dia diam? Pasti dia lagi-lagi sedang merasa kasihan padaku. Begitukah? Seperti apa ya Mbak yang ada di dekatku ini? Tapi ya sudahlah, mengobrol dengannya saja sudah cukup menyenangkan buatku. Nyaris tidak pernah aku diajak mengobrol dengan siapapun yang sekedar mampir di Stasiun ini, jadi kunikmati saja obrolan kami.

Sempat kuajak dia bernyanyi tadi, tapi dia malah balik bertanya, kalau saja mungkin aku bisa menyanyikan lagu berbahasa Inggris. Sayangnya aku belum bisa, aku kesulitan menemukan cara menghafal lagu-lagu selain yang berbahasa Indonesia. Memang bagaimana caranya? Yang paling mungkin adalah dengan mendengarkan seseorang membacakan lirik lagunya pelan-pelan, lalu membiarkan otakku bekerja keras menghafalkan tiap kata-nya sedikit demi sedikit. Ahh...susah. Tapi barusan aku berjanji, suatu saat aku akan menghafal setidaknya satu lagu berbahasa Inggris dan akan kunyanyikan bersama Mbak Na, jika nanti dia kembali ke sini.

Mbak Na sempat bertanya lagi, pertanyaan yang kebanyakan orang tidak memberikannya padaku.

"Suatu saat nanti, kalau Mbak datang ke sini lagi, entah kapan. Apakah kamu masih akan mengingat Mbak? Mengingat suara Mbak?"

Kira-kira begitu pertanyaannya. Aku tersenyum, lebar. Sangat Lebar. Dengan keyakinan seribu persen aku mengangguk. Ya. Aku pasti akan mengingatnya, mengingat suaranya. Memangnya bagaimana lagi aku mengenali seseorang kalau bukan dari suaranya? Itu satu-satunya caraku menghafal nama orang-orang yang kukenal, aku kan tidak bisa mengingat mereka dari wajahnya. Kukatakan padanya, aku pasti akan mengenalinya. Dan kami pasti akan bertemu lagi, asalkan dia datang di waktu seperti sekarang ini, sebelum jam lima sore. Sebelum senja menjadi terlalu orange. Ya kan? Warna senja itu orange kan? Ya..seperti itulah mungkin. Pokoknya sebelum senja habis, aku masih dan akan selalu ada di sudut Stasiun Wonokromo ini, menyanyi.

Aku percaya suatu saat nanti kami akan kembali mengobrol seperti ini. Kupastikan aku tidak akan melupakan suara Mbak Na. Dan...Mbak Na, jangan lupa ya. Namaku, Wiwin.


 


Wonokromo, Februari,  2012
Someday, we'll sing together
Promise me


*PPKA : Pimpinan Pemberangkatan Kereta Api

Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Masih(kah) Menjadi Kejutan

2 comments
Sempat..
Kamu bilang, Kejutan itu Aku

Kejutan,
Karena menemukan renyah dari suara di ujung telepon sana
Karena mampu mengganyang enam puluh menit dikali lima
Pada dialog pertama aku-kamu
Yang harusnya cukup hanya jadi preambule

Kejutan,
Karena sajak yang ku muarakan padamu seketika menerbitkan hening
Karena kidung asmara yang kita nyanyikan, selalu tersudahi
Dengan simpul senyum yang akhirnya memburai jadi tawa tergelak

Kejutan,
Yang dalam beberapa menit setelahnya
Membuat kata-mu mengawan
Karena aku dan sendiriku, perjalananku, juga segala yang hanya aku

Kejutan itu Aku...
Masih ada (kan) ?


"satu jam harusnya lebih  dari 60 menit"
tiba-tiba teringat itu

Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Caraku Mencintamu

2 comments
Kali ini...
Dengan cara yang tidak kau mengerti
Yang bagimu belum teramat
Yang masih tertahan, katamu semalam

Dengan cara yang ku punya, sendiri
Dengan takaran yang aku, milikku
Yang mungkin belum disenyawa kecapmu

Dengan cara yang tidak kau mengerti
Yang anggapmu terlalu dini
Yang bagiku caraku
Bukan tentang prematurnya yang sangat

Ya...
Dengan cara itu...
Aku mencintaimu




Ahh..lupakan saja
it's been a month, dear..
I miss you

Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Bukan Untuk Dikomentari

2 comments
Menjelang siang dan aku duduk di sini
Di tengah ruang nuansa merah-abu abu
Lagi-lagi hanya dengan Hazelnut Float. Itu saja.
Dan seperti biasa
Dua jam ke depan bakal habis cuma dengannya

Sepuluh menit pertama dan meja ini sudah penuh
Dengan ponsel yang earphonenya tersambung ke telingaku
Dengan buku, pulpen dan spidol-spidol warna pelangi

Pelayan-pelayan disini, hafal, aku yakin
Dengan kedatanganku, sendiriku lebih seringnya
Yakin juga, mereka menganggapku aneh
Betah membuang waktu di sini hanya dengan segelas minuman lima ribu rupiah
Berlama-lama menunduk, bermain pulpen dan spidol di atas buku kumal

Kamu juga, kan?
Menyamarkan kata 'aneh', menggantinya dengan 'unik'
Hahaha..
Tak apa..
Setidaknya, kamu tahu
Sebagian yang tentang diriku, atau kamu.. juga kita..
Kulahirkan disini
Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Ini Bukan Puisi

4 comments
Jadi, anggap saja aku bertanya...

Bolehkah tanpa kata Sayang, atau Cinta?
Bagiku itu cuma jajaran huruf dalam kamus. Apa sih maknanya?
Tidak bisakah hanya dengan "Aku bahagia bersamamu"?
Ya...setidaknya aku bahagia. Sekarang.
Tidak cukupkah?

Haruskah itu disenyawa dengan genggam tanganmu yang nyata?

Dengan semua senyum juga tawa
Dengan segala yang dikisahkan lewat tengah malam.
Atau dengan pelukan juga kecup meski hanya berbatas suara.
Bahagia itu..belum cukupkah dengan begitu saja?
Setidaknya sekarang.

Aku hanya tidak usai menemukan ilustrator rasa bahagia itu
tawa, serta peluk hangat itu.
Hanya Sayang.
Yang mungkin terlafazkan bukan di malam yang tepat.


Sendiri
Menahan hujan disini.
Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Hanya Terang

1 comments
Bersama payah
Kutata remah memoar dialog kita

Bukan rinai, bukan senja, lain juga temaram
Meski sempat kukira itu serupa pemadatan mereka-mereka
Lain.

Malam memang, juga gerimis serta gelap yang niscaya
...tapi, yang kuingat, berbatas


"Kamu... masih terang-benderang."


Hanya itu...
Lalu, entah.



-dari sebuah kejutan-
Dalam percakapan seberat kapas
Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Untuk "Strawberry"... it's finally your story! :)

6 comments

Aku tau setiap manusia terlahir dengan garis kodratnya masing-masing. Aku, kamu, dia, dan siapapun yg berdiam di bumi ini tidak pernah meminta untuk jadi apa atau bagaimana saat terlahir. Memilih lahir dari rahim siapa pun tidak bisa. Sungguh, ketidakbisaan ini yang pada akhirnya menjadi pencetus seongok perbedaan. Ya, hanya seongok yang bagi sebagian besar orang ini bukan sekedar pembeda, ini...tembok penghalang.

Sepertiku, seperti pria diujung telepon sana. Kami terlahir dengan pemilihan jenis yang berbeda. Dia cukup menjadi penanggung jawab hidup seorang wanita beserta keturunannya, lengkap dengan kekuatan maskulin dan kewajiban menafkahi jiwa-jiwa yang mengabdi pada hidupnya. Sedangkan aku, Tuhan menyiapkanku untuk meneruskan DNA seorang pria yang kelak berlabel “suami”ku, menghidupi tiap generasinya dg jiwaku. Dan sebuah ketidaksengajaan mempertemukan kami diikuti dengan onggokan pembedanya, menautkan segala perasaan mengganggu yang kemudian kusebut cinta.

Tidak butuh berlama-lama bermain waktu untuk mencintai pria macam dia. Singkat saja. Dan tiba-tiba, Booom...!! Rindu yang tertuju untuknya meledak. Keinginanku untuk memonopoli tiap detik milikknya juga tak kalah mengeluarkan dentuman dahsyat. Benar-benar, It’s called Love. Sesuatu yang tidak pernah aku andaikan bersamanya.

Entah kejujuran atau kebalikannya, dia bersaksi dihadapanku, dia mencintaiku. Ah...tak perlu lagi ku papar betapa aku juga teramat jatuh cinta pada sosoknya. Pada beragam kebaikannya, kesabarannya, ketulusannya juga entah apa lagi yang Tuhan titipkan untuknya untuk menjadi sosok yang aku cintai. Aku merasa kami sama. Sama-sama mencinta. Meskipun aku tau, kesamaan kami tidak mampu mengalahkan segala pembeda yang telah menempel lebih lekat dari sekadar ari-ari kami sejak dalam kandungan. Kami berbeda, bahkan sejak sebelum dilahirkan.

Belakangan aku merasa keinginan untuk memonopolinya adalah sesuatu yang telah menjadikanku seorang pengikut dari paham egoisme. Kami tidak dilahirkan berbeda untuk menjadi sama. Kesamaan kami hanya berbatas pada cinta yang memborgol kami, tanpa kunci untuk membuka borgolnya. Locked. Selebihnya, kami berbeda. Kami bahkan tidak bisa mengeja nama Tuhan bersama-sama.  Bulan dan tahun kami pun punya nama yang berbeda. Tidak akan pernah berhasil baginya untuk membawaku berada di jalannya, begitu pula aku yang mungkin hingga bumi tidak lagi berotasipun tidak akan membuatnya bergeming dari jalan yang disiapkan Tuhan miliknya. Benar-benar aku telah menjadi pengikut paham egoisme tingkat akut karna sempat berkeinginan memonopolinya. Kami.., berbeda.

Hanya beberapa menit yang lalu, secara klasik dia menanyakan keberadaan juga keadaanku setelah berhari hari menutup akses, menutup mata atas kecanggihan teknologi komunikasi. Antara senang, lega, dan...sedikit menyesakkan. Sesak karna aku yang menghentikan secara tiba-tiba perputaran cinta kami. Jangan bayangkan kata “tiba-tiba” terkonotasi dengan “sepihak”, aku yakin dia punya pemikiran sepaham tentang penghentian putaran cinta ini. Hanya saja, mungkin memang harus ada yg mendahului penghentian ini. Tapi...mengapa harus aku? Mengapa bukan dia? Apakah memang harus aku? Dan...mengapa opsi terbaik bagi hubungan kami harus mendaratkan keputusannya di tanganku? Aku benci menjadi seperti ini. Benci menyampaikan pemilihan ini padanya. Benci harus merasakan sesak ini lebih dulu daripadanya.

Aku memang membulatkan niat untuk menhaturkan pemilihan ini. Ini yang terbaik yang akan terjadi. Hasilnya? Jangan tanya. Kecanggihan teknologi macam apapun tidak sanggup menembus eksistensinya. No messages, no call, just...nothing. Aku pikir kami akan menghadapinya dengan (jauh) berbesar hati?

Dan beberapa menit yang lalu, aku mendapati pesan singkat itu (lagi). Sekeras mungkin aku berusaha mewajarkan jawabanku. Be normal! Tapi interaksi hati ini seakan tidak kunjung mendapat ujungnya. Terus bergulir. Beberapa menit berikutnya aku mendapati deretan huruf darinya yang seakan bicara padaku, “Aku pun terluka...”

Disini semakin sesak.

Apa sakit ini adalah perkara yang aku ciptakan? Yang aku munculkan perihnya? Apa kami masih punya kesamaan? Rasa sakit yang sama mungkin. Hhh...rasa sakit itu mungkin serupa, tapi tetap saja tidak merobohkan pembeda diantara kami. Tidak akan pernah.

Entah apa yang menuntun kami untuk kembali bertemu. Aku rasa arus cinta kami masih terkoneksikan dengan amat baik, menimbulkan rindu luar biasa hebat dan menjadikan wajib bagi kami untuk setidaknya saling bergenggam tangan. Ada pucat di wajahnya. Entah karna kesakitan yang (aku rasa) kubuat, atau memang kesehatannya semacam mengalami degredasi? Entahlah...aku hanya begitu merasakan tertusuk menyakitkan di ulu hati melihatnya sepucat ini.

“I need you, still...”

Tidak taukah dia betapa aku juga membutuhkannya? Bahwa aku juga nyaris menjadikan dia candu. Semacam rokok yang harus berpasangkan kopi. Aku juga membutuhkannya lebih dari yang bisa dia perkirakan. Dia meraih jemariku, diamnya berkata seribu bahasa yang hanya dimengerti oleh hatiku. Seketika itu pun, aku tau, dia telah melepaskan. Melepaskan perasaan menyiksanya. Melepaskan rasa sakitnya. Melepaskan ketidakrelaannya.

Melepaskanku.

Tuhan memang tidak membaptiskan firman yang sama pada kami. Tidak pula menciptakan persamaan kidung untuk pujianNya. Tapi kasih kami setara langit. Seandainya pembeda ini bisa kami lebur, lalu tempa menjadi ongokan baru, tentu sudah selesai kami lakukan sejak berbulan bulan yang lalu. Tapi soal peleburan itu, Tuhan tidak menguasakannya pada kami. Dan dia, sosok kucinta ini, telah melepaskan hatinya dari pembeda diantara kami.

Dia masih menggenggam tanganku, mengatakan betapa dia juga ingin berucap jutaan maaf. Aku juga. Rasanya tak habis seluruh kata maaf didunia ini kulontarkan. Dan dia tersenyum. Semain erat menggenggam, mengamini segala yang kuputuskan untuk terjadi. Dan aku, aku menginjinkannya melepasku. Juga mengijinkan diriku melepasnya, demi Tuhanku. Tuhan kami.

Gurat pucatnya semakin sirna, terganti oleh senyum dengan lesung pipinya yang selalu menawan. Aku tau kami akan selalu bersama, dengan takaran yang berbeda dari kemarin. Dengan bentuk yang berbeda. Entah dia akan mengetahuinya atau tidak, tapi aku akan tetap membisikkan doaku untukmu. Pada Tuhanku. Dengan Caraku.


Memahami kisahmu (lagi)
28.03.2012

Semoga kali ini kamu memaknainya dengan rasa yang lebih
Kamu sudah semakin pintar menulis kan sekarang :)

Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

5 things I love the most

2 comments
1. Pantai

2. Hujan

3. Pelangi

4. Kupu-kupu

5. Kamu

6. Pantai

Udah, cuma mau bilang saya suka itu semua, gitu aja.

Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Dear Mars...

2 comments
Hai Mars...
Dimana kamu sekarang? Ada yang bilang kamu mungkin tertahan janubi, iyakah? Aku fikir kamu mungkin masih melenguh pada Saturnus, atau Pluto, sebelum kembali pada keharusan yang aku. Lalu kamu akan dicandu kecup, juga porosku, sampai habis masa. 

Mars...
Bisakah kamu cepat  berdiam di jiwaku sini?   Berikan aku rindumu, sodorkan sedikit malammu di sisi  kananku lalu kemudian kusuguhkan semestaku,akan. 

Tertanda
-Venus-


inspired by tweets with  @celotehandri
hanya Venus!

Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Valentine (February, 14th 2010)

0 comments
Kita tidak pernah merayakan Hari Kasih Sayang bersama. Tentu saja tidak. Aku hanya kamu temui secara sembunyi-sembunyi. Lupakan makan malam romantis dan menghabiskan seharian itu berdua saja. Tidak, tentu kamu akan memilih untuk berada di sisi perempuan itu. Aku memang selalu menjadi prioritas kedua.

Ada saat-saat dalam hidupku ketika aku meyakini bahwa ini hanya sementara. Bahwa aku tidak akan selamanya menjadi yang kedua. Bahwa kamu, suatu hari, akan memutuskan untuk memilihku dan menjadikanku satu-satunya. Ada masanya ketika aku meyakini bahwa menjadi prioritas kedua adalah sesuatu yang harus kuterima dengan lapang dada. Ini demi kamu. Demi kita. Yang perlu kulakukan hanya bersabar dan tetap berada di sisimu.

Tetapi tahun demi tahun berlalu, dan aku tidak lagi mempercayai hal-hal yang dahulu kuyakini sepenuh hati. Kesendirian atau kebersamaan tidak menggangguku. Tetapi kenyataan bahwa aku tak pernah tahu apakah sesungguhnya aku sendiri atau bersamamu adalah sebuah kutukan yang menghantui hari-hariku. Ketidaktahuan apakah aku adalah milikmu atau apakah kamu adalah milikku, menjadikan dunia buram di mataku. Aku terantuk, tersandung, terjatuh, tanpa pernah tahu di mana aku sesungguhnya berada: di relung atau palung hatimu?

Dan waktu berjalan. Ribuan hari terlewati. Kemudian di penghujung malam, aku hanya punya kenangan. Kenangan yang sudah usang, sehingga begitu rapuh untuk disentuh. Jika aku mencoba merabanya, semua hanya akan meluruh menjadi serpih-serpih yang tak akan lagi bisa kusulam utuh.

Aku bosan dengan mendung di langitku. Aku menginginkan matahari. Aku kedinginan karena hujan, dan mengharapkan musim panas. Aku tak lagi nyaman dengan langit yang melulu ungu dan kelabu. Aku ingin harum manis merah jambu dan balon-balon berwarna lucu. Menangis tidak lagi romantis. Aku ingin berbagi tawa dan tersenyum kepada dunia.

Jadi, ijinkan aku untuk jatuh cinta dengan yang lain selain kamu.

Dengan seseorang yang akan membuatku tertawa, bukan menitikkan air mata. Dengan seseorang yang akan menggenggam tanganku dan berkata bahwa ia menginginkanku kepada dunia, bukan menyembunyikannya. Dengan seseorang yang akan berbisik di telingaku bahwa aku adalah satu-satunya, dan sungguh-sungguh memaksudkannya.

Mungkin, bersamamu, aku sudah lupa apa artinya cinta. Kamu terlanjur membuatku percaya bahwa cinta adalah penerimaan diri ketika dijadikan orang ketiga. Dan aku bodoh karena meyakininya. Hari ini, aku menyadari betapa aku sudah terlalu lama menyakiti diriku sendiri; demi kita. Kita yang mungkin bagimu tidak pernah ada.

Aku juga ingin berbahagia.

Seperti kamu, dan dia.

Dan jika bahagia berarti melepasmu; jika itu berarti melewati hari-hariku tanpamu, tak mengapa. Karena yang kuinginkan saat ini adalah melindungi jiwaku, dan memastikan bahwa hatiku masih punya kapasitas yang cukup untuk mencinta.



(this story is a copas from here)

Teruntuk "Abisara"
Jika kau sempat membaca hatiku

Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

is missing

0 comments
Merindukanmu...
sama seperti menanti hujan di musim kemarau...


here, missing you..


Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

For You, Cancer...

3 comments
Hi, Cancer...
I can't believe I still want you...
Setelah tahun-tahun yang kita lewati percuma. Masih dengan riak dalam setiap percakapan kita. Setelah puluhan bulan yang terlewati sia-sia (bagiku) dengan menutupi segala cinta yang tak pernah gersang, yang selalu kusirami dengan air mata jika hujan tak datang.  Yang kutelan pahitnya saat merindukanmu, dan kusesap sendiri manisnya saat akhirnya tertawa bersamamu. Atau yang kurasa sesak saat sosokmu berdiri disamping cinta lain, tak menoleh padaku. After all these times, I can't believe I still want you.... I miss you, Cancer...

Hi, Cancer...
Tidak pernah kau tau, seandainya koran, aku telah membeli kabarmu setiap hari. Aku selalu tau saat kamu memenangkan piala itu. Juga selempang hitam bergaris keperakan itu. Saat kamu tersenyum lebar dengan buket bunga di lenganmu. Taukah kamu, betapa aku ingin berada disana, disampingmu. Dan meskipun puluhan musim terlewati tanpa saling bertemu. Taukah kamu, betapa aku masih merasakan debaran yang sama. Dentum ajaib dalam jantung yang sama, seperti tahun-tahun yang sempat kita lewati tanpa memaknai hadir masing-masing. Aku selalu merindukanmu. Selalu. Dan tak pernah kukatakan.

Cancer...


Masihkah kau mengingat tawa kita?
Contekan kertas kenaikan tingkat kita di ruang kecil sana?
Motor yang pertama kali kukendarai, yang disela-selanya kau sembunyikan lingkaran kecil bermata Fusia untuk jariku? Atau Jaket putih yang kukirimkan untukmu? Juga kotak bintang darimu untukku? Dan Jam berpasir merah biru untuk pulpenmu berdiam?
Masih ingatkah kau tentang... malam kita...?


Semoga kau mengingatnya, Cancer. Karna aku tidak akan bisa menahan memorimu hingga di malam perjamuan kita saja. Aku harap kau menyimpan malam yang bagiku telah menjadi kisah indah kita. Karna dengan begitu, kau akan selalu ingat, bahwa aku sempat mencintaimu. Masih mencintaimu. Meskipun mungkin tak akan pernah bisa kubisikkan lagi dekat di telingamu. I just held it in.

Dan semoga kau maknai lagu ini, Cancer. Untukmu, always.....



I miss those blue eyes, how you kiss me at night
I miss the way we sleep
Like there's no sunrise, like the taste of your smile
I miss the way we breathe


But I never told you what I should have said
No, I never told you, I just held it in


And now I miss everything about you
(Still you're gone)
I can't believe it, I still want you
(And I'm loving you, I never should've walked away)
After all the things we've been through
(I know it's never gonna come again)
I miss everything about you, without you

I see your blue eyes everytime I close mine
You make it hard to see
Where I belong to, when I'm not around you
It's like I'm not with me


Part of Room 4
I jus can't believe
April, 2012, beginning

Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Oasis (?)

0 comments
Aku nyaris melupakan namanya. Entah karna dia yang dulu kelewat pendiam, atau memang aku yang tak sempat jauh mengenalnya. Beberapa bulan kemarin dia muncul di balik punggung seorang pria sahabatnya, menghampiriku. Seingatku dlu dia tidak sebegini berani mengangkat dagunya, melayangkan tatapan tajam, angkuh. Kata-kata yang terproduksi dari bibir mungilnya selalu singkat, datar, straight to the point. Apa dia selalu jauh dari basa basi seperti ini? Yah...mungkin memang aku yang belum sempat memahaminya. 

Entah apa penyebabnya, keangkuhan dan tuturnya yang tajam kemudian menjadi magnet tersendiri bagiku. Membuatku mengalahkan jalanan gelap didepan sana untuk sekedar menjemputnya, menikmati padang bintang di tepi pantai. Di kota dimana aku lahir ini, dari sekian banyak manusia berjenis kelamin wanita, mengapa hanya dia yang kupilih untuk menemani malamku? Aku juga tidak begitu memahami pilihan ini. Tapi berada di dekatnya, aku merasa nyaman. That's it.

Pernah suatu waktu aku katakan padanya betapa sesungguhnya dia mengagumkan. Juga betapa pria-pria itu akan merasakan kedengkian terhadapku yang lamat-lamat memonopoli waktunya. Dia hanya tertawa. Tawa yang begitu khas, begitu hidup, begitu ingin kumonopoli lagi. 

Ah...andai saja aku belum memiliki gadisku.....

Ada hari dimana aku harus melangkah pergi lagi dari kota ini sebelum akhirnya kembali lagi secara berkala menengok orang tuaku. Tapi kemarin, serasa ada pemberat puluhan ton yang mengikat di kakiku. 

Tangisannya.

Entah apa yang sebelumnya merasuki jari-jariku hingga begitu saja menekan tombol-tombol mencari namanya di phonebook malam itu, dan kemudian mendengar tangisannya setelah beberapa kali nada panggil. Damn! Aku tidak pernah suka mendengar isakan tersayat. Aku rasa pria manapun juga seperti itu. Tapi ini, wanita yang mengangkat tinggi dagunya dengan angkuh, kini menangis. Untukku kah? Atau untuk kesalahannya? Untuk sakit hatinya? Untuk apa? Apa karena sebuah ciuman yang sempat kusinggahkan di bibirnya? Apa? Apa? Aku masih terus mencerna...

Brengsek!
Aku merasa tolol membuatnya menangis. Walau dia tidak mengucap sepatah katapun, kuputuskan saja sendiri, ini karnaku. Pasti. karna minggu-minggu yang kami lewati bersama melebihi takaran yang seharusnya. Karena begitu banyak pengharapan yang kutawarkan, yang kusodorkan dengan manis dihadapannya, yang tidak akan mampu kujadikan nyata. 

Ah...andai saja aku masih tidak memiliki gadisku.....

*** *** *** *** ***

"Nanti aku sms lagi ya, agak malem mungkin...
tunggu aja..
don't call me before I do..okay..."

Fuck!
Sejak kapan aku menjadi sebrengsek ini? Apakah mengenalnya telah menjadikan padaku sosok yang sebejat ini? Entahlah...aku hanya mengikuti naluriku sebagai pria yang menemukan jiwa yang begitu indah dalam penjelmaan seorang wanita. Menikmati dahaga batinku yang kini terlegakan, menemukan oasis pada dirinya. Bukannya aku tidak terpuaskan dengan keberadaan oasis-ku sebelumnya. Tapi...oasis kali ini memiliki sensasi berbeda. Sensasi yang memabukkan, yang membuatku addicted. Sebegitu addicting-nya hingga membuatku tak ingin melepasnya, meskipun itu berarti menyakitinya. Membuatnya menjadi wanita yang kucintai ketika aku sedang tidak bersama oasis lain, jika tidak ingin kusebut simpanan.


"Abisara"
Menemukanmu
Oktober, 2010

Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Sembilan

0 comments
Bisakah kita kembali ke 9 tahun lalu?
Saat aku masih berangka belasan...dan kamu belum bertumbuh...
Saat dimana kita meributkan hal-hal kecil juga meneriakkan ejekan menyebalkan
Saat kamu mengendarai motor pertamamu atau aku dengan handphone pertamaku
atau kamera pertamaku yg menangkap sosokmu, tertawa
Tawamu...masih sama....

Andai saja aku punya tiga permintaan seperti dongengmu malam itu
Aku akan meminta untuk bisa kembali ke 9 tahun kemarin
Menatar tingkahku, juga semua yg terlontar dari mulutku, for sure!
Aku akan mengurangi satu hari dimana kita saling berteriak mengejek satu sama lain
menggantinya dengan teriakan "Aku mencintaimu..."
bahkan sebelum kamu yang menyadarinya, menyadari maknaku...

Bisakah 9 tahun yang lalu itu dikembalikan?
Bukannya aku tau apa lagi yang aku inginkan di tahun itu
Aku hanya merindukanmu...
merindukan segala yang tidak kulakukan bersama pria kecil manapun kecuali kamu
Benar-benar menyadari betapa aku merindukan sosokmu...
dan aku membenci ini! Damn!
Sangat membencinya hingga aku tidak bisa berhenti memikirkannya, kamu...


Starring at you back
You've been grown up
Room 4, 21st March 2012


Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Tuhan Kami

0 comments
Aku sedang menekan tombol tombol keyboard, menyusunnya menjadi kata kata yang menjelma menjadi kalimat ketika dia, si wanita berambut panjang, menyampaikan sebuah pemilihan hidupnya. Sejenak hening. Tombol tombol itu kini diam. Aku masih berusaha mencerna segala kalimat yg terlontar darinya. Perasaanku...kosong. Aku tidak menemukan kata untuk mencegahnya, menahannya, atau bahkan melepaskannya. Aku hanya merasa...tidak merasa apa apa. Yang aku tau, dia saudara bagiku.

Apakah aku bersalah Tuhan?

Kini cara kami mengejaMu telah berbeda. Kami tak lagi mendongak pada nama yang sama. Tidak lagi memohon padaMu dengan cara yang sama.

Apa aku berdosa Tuhan?
Karna tidak menahannya utk bersama sama merasakan kasihMu, dengan sebutan Tuhan yang sama.

Lalu pria itu menghampiriku. Pria tinggi itu berkata dia akan bertemu Tuhannya sore nanti. Menyanyikan pujian pujian untukNya. Kami pun punya jalan menuju tempat pemujaan yang berbeda. Hanya saja, pria tinggi ini telah berkodrat dengan Tuhannya sejak dia lahir, sedangkan wanita berambut panjang itu, entahlah... Aku masih belum bisa mendefinisikan pemilihan Tuhan baginya untukku.

Aku kerap bertanya pada pria tinggi itu tentang jalan Tuhan baginya. Lalu aku mendapati pribadi yang penuh kasih pada pria itu yang aku yakini adalah ajaran Tuhannya. Tuhanku, Kau mengajariku juga kan? Kasih pria itu juga mengingatkanku pada penghargaannya juga sikap tolerir yang selalu dia beri padaku saat aku bereforia memuja Tuhan. Pria tinggi yang kukenal sejak kami masih belum berlabel dewasa ini, selalu bersamaku walau Tuhan kami adalah dua pribadi mengagumkan yang berbeda nama. Kau mengajariku juga kan Tuhan? Tentang penghargaan yg sama terhadap pemuja Tuhan yang tak sama.

Wanita berambut panjang itu pernah berkata padaku, “Apakah aku bersalah? Aku tidak menyembah berhala.. aku punya Tuhan...”

Aku lupa apa jawabku kala itu. Yang aku yakini, tidak akan ada sesuatu apapun yang bisa mengubah label hubungan kami.

Apa aku bersalah Tuhan?

Pemilihannya tentang untuk siapa pujian pujian itu ditujukan, mungkin menjadi satu satunya hal yg tidak berbanding lurus dengan nalar otakku. Kadang naluri penyangkalanku seakan ingin bangkit dari tidurnya. Begitu ingin menjamah ujung lidahku untuk mengilah setiap kalimatnya. Sampai dia berkata, “Hanya kamu yang mau menerimaku seperti ini, jika bukan kamu, mungkin orang lain tidak akan ingin mengenalku lagi..”

Tuhan...berdosakah aku?

Lalu aku teringat pria tinggi yang selalu membangunkanku untuk memasukkan beberapa suap nasi kedalam lambungku sebelum aku menahan lapar sepanjang hari. Aku teringat pria tinggi yang kukenal sejak hampir sepuluh tahun yang lalu, yang selalu menyunggingkan senyum didepan pintu rumahku ketika beras pulen dimasak berbentuk persegi tersuguhkan hangat di meja makanku.

Aku tidak ingin terkotak kotakkan dalam fanatisme Tuhan dan membelokkan keyakinan atas Tuhan untuk menghidupi duniaku. Seperti aku dan pria tinggi itu, atau aku dan wanita berambut panjang disana. Tuhan kami akan tetap memberi barcode pada label hubungan kami, barcode Tuhan yang hanya Dia yang Maha Tahu yang mengerti makna dibalik garis garis hitam tebal tipis pada barcodeNya.

Tuhan, bukankah Engkau mash akan mendengarkan setiap doaku untuk mereka? Ya kan?
Bukankah kami menyembahMu?
Kami memang tidak lagi mengejaMu dengan cara yang sama. Tapi tak apa kan Tuhan? Jalan kami berbeda sekarang, tapi aku tahu, Kau mencintai kami...dengan caraMu...

Dan Tuhan, biarkan penyangkalanku tertidur selamanya....


Diantara huruf ketiga dan kedua belas
C dan L
Memaknai pilihanmu
2.08.2011

Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO