Memeluk Kamu

9 comments
Aku ingin memelukmu
Dalam diamku
Dalam senyumku
Dalam kerjap mataku

Aku ingin memelukmu
Untuk setiap tawamu
Untuk setiap kecupmu
Untuk setiap jemari yang kau selipkan
Di sela-sela rambutku

Aku ingin memelukmu
Lewat gerimis 
Lewat matahari
Lewat seisi bumi-ku yang berotasi
Menjadikan kamu sebagai porosnya

Aku ingin memelukmu
Karena rindu
Karena cinta
Karena, ini kamu...


Ketika diam menyimpan sejuta kata
Banyuwangi, Oktober 2012

Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Sepertinya, Ini Puisi Rindu

8 comments
Bersamamu, aku belajar melipat rindu
Kusimpan dalam saku, dekat di jantungku
Biar berdetak ia tiap detik

Bersamamu, aku belajar meniup air mata
Biar ditimang angin pantai
Membumbung tinggi, ditangkap awan
Hingga luruh jadi gerimis sore hari

Bersamamu...
Aku belajar membuang kata-kata
Kulempar ke udara, kutimbun dalam tanah
Kuhanyutkan di sungai kecil belakang rumah
Atau kutitipkan pada matahari
sampai kering tak bersisa

Hingga benar tak ada lagi kata-kata
dan aku tak lagi bisa berkata-kata
Biar semesta yang membisikkan padamu,
Aku rindu...



Banyuwangi, 2012
Seminggu setelah 30 September

Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Padamu, Kutitipkan...

3 comments
Kamu adalah salah satu sudut pikirku...
Yang diterjemahkan lewat puisi-puisi di atas kertas putih. Lewat kata-kata mengawan yang kemudian kutangkap perlahan. Kusulam satu-satu menjadi sebaris namamu-namaku.

Kamu adalah pendongeng sebelum tidur malamku...
Dimana selalu ada rindu untuk dipulangkan ke sana. Dengan segera. Dengan tergesa. Dengan candu pelukanmu sebagai umpan, sedang aku perindu yang mengejar-ngejar. Hingga dapat. Hingga habis kulahap.

Kamu, sepenggal napas tersengal...
Yang tanpamu adalah senja tanpa jingga. Yang tanpamu, tak ada sajak bisa dimulai. Menguap, memuai sampai habis kata di udara.

Kamu separuh jiwa yang kutitipkan di lain kota...
Meski tak nampak, meski jauh mengaduh, masih akan kutunggu dengan sendu. Hingga waktu menjebak kita pada kerentaan.

Seperti potongan nada yang menjelma kidung asmara. Seperti itulah kamu, bagian masa depan yang tak mungkin tanpa aku.


Banyuwangi, 14 September 2012

Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Sederhana Saja

2 comments
Jika kau bertanya tentang dimana puisi-puisiku berada

Sederhana

Di kamu.


dari milik @celotehandri

Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Masih Milikmu

3 comments
Ini gara-gara pohon mangga sialan di samping rumahku. Bukannya aku tak menyukainya. Aku selalu menanti buah berkulit hijau kekuningan itu bergelantungan di setiap rantingnya. Aku tahu mereka butuh waktu yang cukup lama untuk akhirnya bisa sampai di meja makanku, di mangkuk rujak serut kesukaanku, di toples asinanku, atau di kantong-kantong plastik yang ku bagikan pada kerabat-kerabatku. Lima bulan. Bukan. Enam bulan. Bisa jadi lebih dari itu. Pokoknya lama.

Hari masih pagi saat aku tak sengaja melihat beberapa buah menggantung di salah satu ranting di pohon mangga itu. Entah sudah berapa lama dia berayun manja di sana. Kurasa sudah lebih dari dua minggu, terlihat dari ukurannya yang cukup besar dan ranting yang terlalu melengkung karena terlalu berat menahan beban. Biasanya aku senang bukan main melihat buah-buah ini siap dipetik. Bahwa akan ada lebih dari satu keranjang besar berisikan puluhan buah mangga. Hanya saja kali ini sepertinya berbeda. Buah-buah itu seketika mengingatkanku akan puisimu beberapa waktu kemarin. Puisi tentang pohon mangga di samping rumahku. Tentang halaman rumah tempat pohon manggaku tumbuh yang belum sempat kau tengok, tentang betapa kau ingin tahu sebesar apa pohon ini, bagaimana rasa buahnya, atau seberapa rindang dahan dan rantingnya saat kamu duduk di bawahnya, sambil menulis puisi-puisi dalam buku kecilmu. 

Puisi yang kau kirimkan padaku itu, entah ditulis berapa bulan yang lalu. Tapi seingatku, puisi itu ku baca saat buah mangga di pohon samping rumahku ini sedang ranum-ranumnya. Kemudian aku tersenyum-senyum sendiri sambil membayangkan kita yang akan duduk di bawahnya, bercerita macam-macam. Bisa jadi sambil memilih-milih buah di ranting mana yang akan kita petik. Dan lihatlah... pagi ini buah-buah itu sudah mulai ranum lagi. Kurasa ini sama artinya dengan lebih-dari-dua-musim-kita-tidak-bertemu. Bukankah begitu? 
Sudah lebih dari dua musim. Dan rindu ini masih milikmu. 

Aku lupa kapan terakhir kali kau menjanjikan sebuah kedatangan padaku. Yang aku ingat, kau selalu menjanjikan puisi-puisi dimana hanya kita yang tau maknanya. Puisi tentang pohon mangga yang kau tulis itu hanya salah satunya. Entah ini perlu kau percaya atau tidak, tapi lebih dari apa yang kau tulis dalam puisimu. Dalam hati aku menunggumu. Bahkan dalam benak pun, aku masih menunggumu, meski entah harus melewati berapa musim lagi. Sambil menatap pohon mangga yang kokoh berdiri di hadapanku ini, aku bertanya, "Bila rindu ini masih milikmu, maka harus berapa lama aku menunggumu?"


Banyuwangi, 5 September 2012
Inspired from Menunggumu - Chrisye feat. Ariel


Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Antitesis

1 comments
Ada kalanya aku ingin berhenti menulis tentangmu.
Tentang kamu yang menggilai Juventus.
Tentang Pro-Evolution yang menjadi jadwal mingguanmu.
Tentang betapa menggelikannya kamu (bagiku) yang dengan mudah tertidur semenit setelah mendengarkan musik metal.
Juga tentang sajak-sajak yang kamu puji indahnya tanpa benar-benar kamu pahami maknanya.

Aku ingin berhenti menulis tentangmu yang menulis tentangku.
Tentang ketidaksukaanmu pada teh seduh.
Tentang kamu yang menyukai senja dan langit sehabis subuh.
Tentang betapa kamu sempat sangat dihantui oleh angka tiga puluh.
Atau tentang kamu yang gemar memukul udara dengan stik drum, berpura-pura menjadikannya gaduh.

Aku ingin berhenti menulis tentangmu. Tapi lihatlah, pada akhirnya tulisan ini tetap tentang kamu. Ahh.., mungkin memang aku belum bisa berhenti.


Banyuwangi,
14 Agustus 2012

Sent from my BlackBerry® via Smart/EVDO Network.
Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Paranoid

0 comments
Jadi ini rencananya, besok lusa kita akan bertemu. Pertemuan pertama. Tentu saja setelah melewati empat purnama, puluhan malam bercerita segala rupa, juga ratusan percakapan lewat udara. Bisa dikatakan ini rencana paling aku tunggu sejak kali pertama aku membaca sajakmu. Ya, sajakmu, puisimu atau apalah namanya, semua yang kau tulis yang membuatku jatuh hati pertama kali. Bukan, bukan pada sosokmu. Aku jatuh hati pada setiap kisah yang kau sisipkan di bait-bait puisimu. Pada pilu yang kau selipkan di tiap tulisan yang kau tipu dengan label fiksi. Aku jatuh hati pada kata-kata yang kau beri nyawa.

Tak butuh waktu lama bagiku untuk akhirnya menemukanmu di dunia selain puisi tertulis. Kita kemudian berbagi cerita, berbagi lagu, juga tertawa bersama. Aku mendengar suara terjagamu bahkan hingga kau jatuh terlelap. Kau mendengarku menangis sekaligus menenangkanku. Kita berbagi puisi, bertukar judul buku, film, makanan kesukaanku, hingga club sepakbola favoritmu. Dan aku menikmati setiap momennya. Segalanya mudah bagiku. Begitu mudahnya hingga aku jatuh hati untuk yang kedua kalinya. Sayangnya, kali ini pada sosokmu, yang belum pernah kudapati nyata hadir di depan mataku.

Hanya saja pagi ini aku merasa sial. Kau baru saja memberitahuku tentang klasifikasi wanita pujaanmu. Dan coba tebak, dari sepuluh hal yang kau sebutkan, aku nyaris tidak termasuk dalam klasifikasi manapun. Kau hanya bilang bahwa suaraku cantik ketika bernyanyi, puisi-puisiku indah saat kau baca, dan kegemaranku memasak hanya kau jadikan poin plus. Selebihnya, tinggi badan, bentuk tubuh, warna kulit hingga rambut pun nyaris tidak berbanding lurus dengan kualifikasi wanita yang pantas kau puja.

Besok lusa kita akan bertemu. Pertemuan pertama. Dan kau baru mengatakan segala tentang wanita impianmu pagi ini. Percayakah kau jika kukatakan yang melekat padaku justru hal-hal yang kau benci? Kau benci wanita berambut pendek. Kau benci wanita dengan jins belel dan sepatu keds. Kau benci wanita ber-eyeliner, seperti penyihir katamu. Hey... wanita itu aku. Dan aku benci mendapati diriku mulai jatuh hati padamu, sedangkan kau (kupikir) akan membenciku dibanding balik jatuh hati padaku.

Lalu, bagaimana jika benar kau akan membenciku? Bagaimana jika puisi indahku tidak mampu mengalahkan kebencianmu pada gaya berpakaianku? Bagaimana jika nyanyian merduku tak mampu meredam ketidaksukaanmu pada rambutku, atau penampilanku? Atau yang terparah yang mungkin terjadi, kau akan memilih untuk tidak mengenalku lagi. Tidak. Aku tidak akan membiarkan kau menaruh rasa tidak suka padaku meski hanya seujung kuku.

Jadi di sinilah aku sore ini. Memaksa diriku sendiri melakukan hal yang kupikir tidak akan pernah kulakukan. Salon. Beberapa jam kedepan aku akan keluar dari tempat ini dengan rambut panjang berwarna kecoklatan. Satu dari sepuluh hal yang kau suka. Di samping kursi hitam yang kududuki ada dua buah paper bag hasil berbelanjaku barusan. Satu kantung berisi mini dress dan bolero, sedang kantung lainnya berisi high heels, wedges tepatnya. Anggap saja, kau tidak perlu melihat jins belel dan sepatu kedsku yang warnanya mulai memudar itu.

*** *** ***

Mini dress berwarna fuschia pucat beraksen bunga-bunga kecil diujungnya dan bolero ungu anggur kini melekat di tubuhku. Kedua kakiku juga telah kujejalkan pada wedges warna senada yang membuat tubuhku sepuluh senti lebih tinggi. Kali ini kupastikan rambut kecoklatanku tergerai sempurna. Memeriksa setiap sambungannya, aku tidak ingin ada satu ikatan pun yang lepas saat bertemu denganmu nanti. Mataku terlihat sangat oriental tanpa eyeliner, satu hal yang sebenarnya tidak aku suka. Tapi aku masih punya satu sentuhan akhir, softlense berwarna coklat gelap. Seperti yang selalu kau katakan tentang betapa cantiknya mata seorang wanita yang berwarna coklat. Kini aku memilikinya. Hampir semuanya.

Kau baru saja meneleponku dari parkiran luar. Tidak sampai sepuluh menit kedepan kita akan saling menemukan. Sejujurnya, aku benci menjadi seperti ini. Benci melihat diriku yang terpantul di kaca gelap sebuah counter fashion di depanku. Tapi aku akan lebih benci jika kau sampai tidak jatuh hati padaku. Aku tidak peduli seandainya kau nanti muncul dengan penampilan yang tidak memenuhi kualifikasiku. Aku tidak peduli jika nanti aku memutuskan untuk tidak lagi jatuh hati padamu. Aku bahkan sangat tidak peduli seandainya setelah pertemuan ini aku yang akan menaruh rasa tidak suka padamu. Tapi kau? Kau harus jatuh hati padaku. Kau harus menyukaiku lebih dari kemarin.

Sekali lagi kupastikan rambutku rapi. Menatanya agar tidak ada satu ikatan pun yang terlihat dari luar. Aku tak ingin kau tahu bahwa ini ekstensi.


I make the most of all this stress
I try to live without regrets
But I'm about to break a sweat
I'm freaking out

PARANOID - JONAS BROTHER

Banyuwangi
Dalam imajinasi

Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO