Showing posts with label Catatan Harian. Show all posts
Showing posts with label Catatan Harian. Show all posts

Tulisan Pertama yang Saya Unggah

7 comments
Mungkin ini adalah tulisan non-fiksi pertama yang saya unggah di blog ini.

Beberapa waktu lalu, seorang teman menawarkan kepada saya sebuah pekerjaan baru, di tempat yang baru, dengan pengalaman baru dan orang-orang baru. Sebuah tawaran yang sangat menarik bagi saya. Namun, saya tidak bisa tidak mengakui bahwa saya selalu takut memulai sesuatu yang baru. Saya mulai mempertimbangkan ini-itu, membuat perhitungan, menerka-nerka apa yang akan terjadi setelah saya memilih nanti. Saya terus berpikir, sampai saya menyadari sesuatu.

Mungkin, ketakutan saya disebabkan karena saya terlalu lama berada di zona nyaman saya.

Saya terlalu nyaman berada di tempat kerja saya sekarang. Saya nyaman dengan orang-orangnya, tempatnya, waktu kerjanya, dan banyak hal lain. Saya selalu tahu bahwa saya tidak akan selamanya berada di sini, saya hanya tidak tahu bagaimana dan kapan saya berhenti. Sampai ketika ada sesuatu yang baru datang, saya menjadi ragu, apakah hal baru itu akan lebih baik dari apa yang saya dapatkan sekarang? Bagaimana kalau saya gagal? Saya tidak akan bisa kembali. Bagaimana jika saya menyesal? Saya tidak bisa memutar waktu. Bagaimana jika saya harus mengubah semua kebiasaan yang saya suka? Bagaimana kalau saya harus bekerja lebih keras dan saya tidak mampu? Bagaimana kalau ternyata saya malah membuat banyak orang kecewa? Dan banyak pertanyaan berbeda yang terus muncul di kepala saya.

Lalu, saya menyadari sesuatu yang lain. 

Manusia, bagaimana pun, tidak akan berada terlalu lama ada satu tempat yang sama. Saya tidak akan selamanya tinggal dengan orangtua saya karena saya harus bertumbuh dan belajar tidak bergantung, saya tidak akan selamanya bersekolah di universitas karena saya akan lulus kemudian bekerja, saya tidak akan selamanya terus berpacaran dengan seorang pria karena suatu hari kami akan putus atau menikah, saya tidak akan selamanya memakai ponsel saya yang sekarang karena suatu hari itu akan rusak, dan banyak contoh lain—yang terkadang membuat saya takut, tapi mau tidak mau harus saya lakukan.

Siap atau tidak, saya akan selalu melangkah memasuki fase-fase hidup yang selalu berubah, yang tidak akan pernah sama dengan orang lain. Dan mungkin, ini adalah salah satu fase ketakutan yang harus saya lewati untuk kemudian menghadapi fase lain—yang bisa jadi lebih menakutkan.

Hingga akhirnya saya memutuskan untuk membagi ini di blog saya. Sampai kemarin, saya selalu menolak untuk mengunggah tulisan yang bukan tentang puisi, prosa, atau cerita pendek. Namun, lagi-lagi saya kembali teringat, bahwa saya tidak akan selamanya mampu menulis puisi, bahwa tidak selamanya saya ingin membagi perasaan rindu saya dalam bentuk cerpen, bahwa saya sebenarnya ingin membagi cerita dalam bentuk yang berbeda. 

Saya memang belum memutuskan apakah saya akan menerima tawaran kerja dari teman saya itu. Namun, saya sudah memutuskan satu hal.

Saya akan berhenti menulis di sini.

Mungkin ini adalah tulisan non-fiksi pertama yang saya unggah di blog ini, dan mungkin, ini juga adalah tulisan terakhir yang saya unggah di blog ini. 

Saya tidak akan menutup blog ini. Saya juga masih akan membiarkan semua tulisan saya berada di sini tanpa ada yang saya hapus. Saya tidak akan mengubah apa pun yang ada di dalam blog ini. Kalau saya merindukan tulisan-tulisan saya yang romantis dan—sebut saja—alay, saya akan kembali berkunjung kemari.

Saya hanya akan berpindah tempat, karena saya tahu tidak ada sesuatu yang terus berada di tempat yang sama dalam waktu yang terlalu lama.

Jadi, sampai jumpa di tempat lain! :)


Semanggi, 14 Agustus 2015
Dengan banyak cinta, 

Riesna Kurnia



Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Hal-hal Yang Tak Sempat Kusampaikan

18 comments
Kau mungkin tak peduli pada apa yang kusuka. Yang kau tahu hanya tiba-tiba meneleponku dan berkata "Aku di depan, keluar, gih." kemudian aku akan terburu-buru mengganti kaus belelku, menukarnya dengan baju yang baru kusterika. 

Biasanya kau akan protes, "Lama banget, sih." Dan aku hanya akan tersenyum, mengusap kepalamu dan meminta maaf karena membuatmu menunggu. 

Kau mungkin tak peduli pada apa yang kusuka. Yang kau tahu, ayam goreng di seberang jalan mampu membuatku kenyang sekaligus senang dalam waktu yang bersamaan. Ketika kau lebih dulu menyelesaikan ritual makanmu, kau akan berkomentar tentang sambalnya sedangkan aku akan mendengarkanmu sambil sesekali mengusap dahimu yang berkeringat. 

Aku tak pernah tahu apa kau sempat mengira-ngira, apalagi yang kusuka selain ayam goreng dan bermalas-malasan di kamarku. Tapi, biar kuberi tahu kau, aku suka diam-diam membayangkan kau berdiri di depan kamarku lalu tiba-tiba memelukku sedetik setelah aku membuka pintu. Aku juga suka diam-diam menuliskan namamu dalam buku catatanku, atau sesekali memeluk boneka pemberianmu, mencoba mencari apakah wangi parfummu tertinggal di sana. 

Kau mungkin tak peduli pada apa yang kusuka, tapi menyenangkan bagiku mendapatimu membawa sebatang cokelat untukku. Bukan cokelat mahal, bukan cokelat favoritku, bukan juga cokelat dengan kacang mede di dalamnya. Mungkin satu hal yang lupa kusampaikan padamu, aku lebih suka kacang mede dibanding almond.

Ketika aku akhirnya menyobek kertas pembungkusnya, aku mengingatmu. Kau mungkin tak peduli pada apa saja yang kusuka, tapi aku yakin kau masih ingat tentangku yang suka menulis tentangmu. Ya, aku suka menulis tentangmu. Maka, meskipun cokelat ini bukan cokelat dengan kacang mede, aku tetap mengunyahnya, sambil mengingatmu, dan menulis ini. 



Jatipadang, 26 Agustus 2013

Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Biarkan Telingaku Mencium Bibirmu

9 comments
Ingatkan padaku tentang betapa kau mencintaiku
Sedetik setelah mendengarnya, aku akan tersenyum malu-malu
Mengerjap-kerjap manja ke arahmu, lalu memelukmu kuat-kuat
"Aku pun mencintaimu... Sangat mencintaimu..."

Ucapkan padaku berulang-ulang, bahwa kau merindukanku
Aku tak akan pernah bosan mendengarnya
Suaramu; morfin bagi telingaku, yang tak pernah gagal
mengumpan berlusin senyum pada tiap rebahku di malam hari
Ah... tak ada yang lebih kurindukan selainmu

Katakan sambil menggenggam jari-jari telanjangku
"Kau semestaku, segala-galaku..."
Dan biarkan telingaku menangkap setiap notasi
Dari suaramu yang paling mengadiksi
Menjadikannya candu hingga nanti, hingga masa dihabisi

Lalu... ingatkan sekali lagi padaku
Aku tuli dan kau bisu



Maka katakan yang sederhana
pada nama-nama luar biasa
sebelum kau tak bisa bicara dan tak ada yang mau mendengar

Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Sebatang Pohon

1 comments
Aku merindukanmu
Sebatang pohon yang rindang

Berbagi cerita tentang segala
Menangisi malam yang ditukar pagi
Menertawakan setiap musim berganti
Panas hingga semi
Aku dan kamu ini

Aku merindukanmu
Yang mengganggu malam-malam tidurku
Dengan ranting juga daun kering
Mengetuk berisik jendela kamarku
Tapi ajaibnya...
Aku selalu mampu memaksa diri terjaga
Mendengar kisah tentangmu, tentang penebang pohon
Tentang pengagum bungamu
Tentang matahari yang menyengat
Atau rintik yg mampir di tubuhmu yang cantik
Ya...kamu selalu cantik

Sempat aku dan alpaku mengusikmu
Tak sengaja mencabut paksa bungamu yang cantik itu
Hanya sedetik setelahnya, kemudian aku menunduk lesu
Kamu...terluka, dan tak perlu aku tanya
Aku sudah terlalu mengenal kamu siapa

Ulang, kusambangi sebatang pohonku yang tercantik
Membawakanmu sebingkis maaf
Entah terbayar entah tidak

Sayangnya...
Bunga itu tak kunjung menuai semi
Kamu seperti tak melirik ke arahku sini

Sekali...
Dua kali...
Lalu aku berhenti
Ah...kamu masih begitu murka, mungkin

Lalu kuputuskan untuk menunggumu
Melewati musim gugur
Menanti musim semi
Berharap ada kuncup-kuncup yang merekah dengan sudi
Sambil terus mencuri pandang kearahmu
Memastikan kamu baik-baik saja tanpa gangguanku

Oh iya... aku selalu menitipkan salam pada Tuhan
Lewat hembus angin
Noktah-noktah gerimis
Juga hangat matahari pagi
Semoga sampai padamu

Nanti, jika bunga itu merekah merah lagi
Tolong beri tahu aku
Ketuk saja jendela kacaku di malam hari
Dengan ranting atau daun kering

Aku merindukanmu sebatang pohon yang rindang
Aku merindukan berteduh di bawahmu
Hingga tertidur



I miss you a lot, I do
June, 25th 2012

Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Antonim Cinta

0 comments
Aku mendapati sebuah pertanyaan, "Apakah lawan kata dari MENCINTAI?"
kata pertama yang menjadi opsi terpilih untuk jawaban pertanyaan diatas dari kebanyakan orang adalah "MEMBENCI". Ya, apalagi kalau bukan kata membenci, ya kan? Itu menurut sebagian orang.

Disaat kita mencintai seseorang, kita akan mengerahkan seluruh upaya, menyita lebih dari tigaperempat kapasitas perasaan kita untuk dia yang tercinta. Memenuhi setiap lekuk otak kita dengan namanya. Meniadakan rasa tidak suka, mengacuhkan segala penolakan, menutup mata pada segal perbedaan, dan menjadikan putih bagi segala yang hitam. Dan sosok tercinta itu akan selalu berestafet dari satu sudut pikiran kita ke sudut yang lain pada raga juga jiwa yang sama.

Memilih opsi kata Membenci, apakah sudah dianggap paling ber-antonim dengan kata mencintai? Bagi saya, tidak.

Mengeluarkan tenaga untuk membenci seseorang sama saja dengan mengeluarkan tenaga untuk memikirkannya. masih saja menyebut namanya dalam setiap umpatan. masih mengingat setiap detail kejaian penuh lara yang menjejak menjadi memori pahit. Saat kita masih mencintai dan membenci, kita masih meluangkan waktu untuk memikirkannya, dia yang kita cinta dan dia yang kita benci. masih mengingat kejadian indah juga penuh amarah bersama dia yang tercinta juga dia yang terbenci. Kita masih..mengingatnya! jadi, benci bukan lagi antonim cinta. 

Lalu, sudahkan terpikir apa yang menjadi antonim cinta? Saya sudah.

Adalah MENGABAIKAN yang menjadi antonimnya. 

Saat kita mengabaikan, kita sudah tidak lagi memikirkannya. Tidak lagi mengingatnya. Tidak sedang membenci, tapi sudah tidak lagi mencintai. kita mengabaikan segala bentuk perhatiannya. Mengabaikan teleponnya, mengabaikan pesan singkatnya, terlebih kita mengabaikan keberadaannya. Dia ada, tapi bukan lagi menjadi sosok yang mengalihkan pandangan kita. Bukan lagi yang menjadi top priority dalam visi misi kita. Pengabaian bukan sama dengan membenci yang masih pada fase memikirkan segala amarah, keberadaan, kenangan-kenangan suram tentang seseorang. Pengabaian lebih dari itu.Saat kita tidak lagi mencintainya, tapi bukan disebut membencinya. Dan inilah antonim cinta, Mengabaikan.


Bermain ponsel
Sebuah Percakapan

Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Marie Claire

0 comments
Anggap saja aku punya “Bunda”. Sesosok wanita bertubuh tinggi besar, yang mengelola sebuah Bakery yang Ruko-nya dipenuhi wangi khas roti baru matang, campuran antara wangi susu, kayu manis, tepung dan entah apa lagi. Dia Bundaku. Orang asing yang beberapa tahun belakangan menjadi karib dari Mama. Mamaku. Dan tiba-tiba singkatnya, aku memanggilnya Bunda. Memang Bunda bukan sosok yang sangat sangat dekat denganku. Bukan wanita yang akan aku cari jika aku dalam kesulitan, bukan orang yang aku tulis namanya dalam Keterangan Orang Tua. Tapi aku selalu memanggilnya Bunda.

Aku pernah membantu Bunda, bekerja sebagai Administrasi dalam sebuah Forum untuk Alumni peserta Leadership Training. Tidak lama memang, karna aku disibukkan dengan kuliahku saat itu. Kami juga pernah ke kota tetangga bersama, menghadiri suatu event dan Bunda memegang kendali mobil selama lebih dari 3 jam perjalanan. Dan ada juga beberapa kagiatan bersama kami yang mungkin aku lupa semua, hehe. Meskipun begitu, aku terbilang jarang berkomunikasi dengan Bunda (sekarang Bunda berdomisili di Tarakan, tapi Bakery di kota ini masih tetap ada). Kalaupun ada kalanya  Bunda kemari, aku tidak selalu sempat menemuinya. Dengan Ayah (suami Bunda) malah lebih jarang lagi. Tapi mereka tetap berhubungan dekat dengan Mama.

Kira-kira sebulan kebelakang, Ayah dan Bunda datang kemari, mengurus sebuah Training disini, dan aku diminta untuk menjadi penerima tamu. Aku yang dengan kebanggaanku saat itu memberi tahu mereka tentang kelulusanku di bulan sebelumnya, dan mereka ikut senang, berharap aku segera mendapat pekerjaan. Terhitung hanya beberapa jam saja pertemuanku dengan mereka, aku bahkan tidak sempat mengobrol dengan Ayah, lalu mereka kembali ke Tarakan setelah sebelumnya mampir ke Jakarta.

Selang (kira-kira) satu bulan, Bunda mengirim pesan singkat pada Mama, katanya ada paket yang harus mama buka yang berkaitan dengan keperluan seragam panitia Training. Tambahan lagi, ada kiriman untukku juga. Hah? Untukku? Tidak pernah sedikitpun mampir dibenakku mendapat kiriman yang entah apa isinya dari Bunda. Yah, in some cases Bunda memang beberapa kali memberiku (dan Mama) barang, tapi tidak yang di khususkan dikirim jauh2 dari Tarakan! Biasanya hanya sebatas oleh-oleh kok. Akhirnya pagi kemarin aku ke Bakery Bunda, bersama Mama tentu saja. Lalu ketika aku tau ada dus besar disana, aku yakin itu paket yang dimaksud Bunda. Mama sih memang didaulat untuk membukanya beserta surat yang juga harus dibaca.

Kaget, didalam dus sebesar itu, ternyata kiriman buat Mama hanya ada didalam Plastik kecil. Dan plastik lainnya hanya berisi sebelas bros yang akan Bunda jual. Dan yang paling banyak mengamcil space didalam sana adalah sebuah paper bag hitam dengan motif putih tipis meliuk-liuk dan sebuah tulisan “Marie Claire”. Wow, ini baru sureprise! Aku melongo. Mama apalagi. Nggak salah, nih? Ditempelkan sebuah amplop diluar pojok paper bag tebal itu, isinya hanya berbunyi,

Buat L
Congratulation
Dari Ayah-Bunda

Hanya itu. Tidak ada keterangan lain apapun. Hanya congratulation. Aku tebak saja sendiri, mungkin ini kado untuk kelulusanku. Tapi...kado? Untukku? Untuk kelulusanku? Dan dari orang yang tidak bisa dibilang sangat dekat denganku. Saat itu juga, aku memikirkan beberapa hal;

  1. Hey, ini tas Marie Claire, bukan KW, asli! Yang aku tau outlet resminya hanya ada di Jakarta, Surabaya, Medan dan Makasar. Selama aku masih nggak duit banyak buat foya-foya, aku nggak akan beli ini tas. Warnanya putih gading. Besar. Dan ternyata ada 2 pieces. Kalo bukan Bunda, aku rasa orang lain nggak akan memberi kado semacam ini. Not even my mother, hehe. Dan untuk orang yang tidak terbilang dekat denganku, ini benar-benar kejutan. But, one thing i shoul realize, she remembers me. Bunda mengingatku, menyempatkan diri membelikanku kado. Ingat bahwa aku baru lulus. ingat bahwa aku tipe yang feminim dan suka barang-barang sejenis ini. Apapun itu, dia mengingatku. Meskipun aku bisa dibilang bukan siapa-siapanya, hanya anak dari seorang sahabatnya. Tapi Bunda tetap mengingatku, mengirimkan tas ini dari jauh. Betapa aku sangat sangat sangat menghargai itu. Tas ini memang branded dan mahal pastinya. Tapi pointnya, Bunda menyayangiku, kalaupun bukan Marie Claire, aku tetap akan merasa senaaaaang sekali mendapat kiriman kado kelulusan. Rasanya aku ingin menangis saking terharunya. Benar-benar ingin menangis.
  2. Taukah alasan mengapa Bunda mengingatku? Karna Mama. Mama selalu membantu Bunda ini-itu. Mengurus beberapa keperluan yang tidak bisa dilakukan Bunda dari Jakarta, Tarakan atau Jogja sana. Dan yang diingat Bunda sebenarnya adalah Mama. Baru kemudian aku. jadi pelajarannya adalah, apapun yang kita lakukan, apapun itu, pasti menuai Karma. Entah itu Karma baik atau Karma buruk. Dan kali ini, aku mendapat Karma baik dari Mama. Mama yang berlaku baik, akan mendapat balasan baik pula, tidak harus pada diri Mama sendiri, tapi bisa pada keluarganya, anak-anaknya, pekerjaannya, perjalanannya, atau apa saja. Dan aku sangat bangga dengan Mama. Bunda bukan satu-satunya orang yang berlaku baik pada Mama, tapi banyak orang lain lagi yang selalu membalas kebaikan Mama, atau sekedar mempermudah urusan mama, Dokter-dokter kenalan Mama, Pegawai-pegawai Bank, Pedangang-pedagang, Catering dan beberapa yang lain. Ini yang aku pelajari dari Mama, siapapun itu, aku selalu berusaha berlaku baik. Dalam beberapa hal, orang-orang bilang aku mirip Mama, senyum, supel, ramah, rame, dan nggak kenal capek.Meskipun aku kadang bisa jadi jauh lebih judes dan terkesan jahat. Tapi karma baik Mama yang ingin aku tiru.

Anyway, tas Marie Claire ini mengajariku sesuatu. Tentang kebaikan. Tentang sesuatu yang akan terus kupelajari untuk kulakukan. Aku sudah menelfon Bunda untuk mengucapkan terimakasih, Bunda bilang, “Semoga kamu suka...”  tapi bagiku, aku tidak sekedar “suka” pada Marie Claire ini, tapi lebih dari itu aku sangat berterimakasih karna telah mengingatku, dan telah memberikan Mama sebuah Karma baik. I love you, Bunda Amari.

Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Time to Work..(?)

0 comments
Setiap anak kecil selalu punya ide ajaib untuk dijadikan cita-cita, belasan tahun yang lalu, aku menjadi salah satu dari mereka. Dulu, aku bercita-cita untuk menjadi Polwan, sempat pula ingin jadi pemain bulu tangkis. Seingatku, saat aku SD kira-kira, entah ingin jadi apa, tapi aku ingin bekerja di Boscha, buat apa lagi kalau bukan melihat bintang. Haha. Lalu berubah menjadi Tenaga Ahli yang bekerja di LIPI. Kemudian, saat aku mulai bertranformasi dari sekedar gadis menjadi wanita, aku dan seorang sahabatku bercita-cita untuk menjadi seorang dosen di Universitas yang sama, tempat kami kuliah.

Tapi kemudian, here I am. Diam drumah, bangun pagi-pagi buta dan menulis untuk blog-ku. Katakan aku aku jobless, tapi aku masih menunggu pekerjaan yang tepat. Bukankah semua orang begit?. Dan ngomong-ngomong soal pekerjaan yang tepat, ada beberapa hal yang membuatku sedikit galau. Di daerah manakah aku harus bekerja?

Lagi-lagi aku belajar dari pengalaman-pengalaman yang sudah dan sedang dirasakan oleh beberapa teman dan sahabat. Sebagian dari diriku bisa dibilang sangat-sangat-sangat menginginkan untuk bekerja di sini, di tempatku berdiam sekarang. Memang bukan tempatku dilahirkan, tapi tempatku belajar menjadi dewasa. Kenapa? Entahlah. Kadang jawabanku bisa terbantah oleh orang lain, tapi aku ingin disini, dekat dengan keluargaku, disinilah keluargaku, tempatku inilah keluargaku. Dan tempaku inilah, tempat tujuan sahabat-sahabatku pulang. Pemikiran kedua, hemat beib. Dengan bekerja di instansi yang sama di berbagai tempat, dengan gaji yang sama pula, I’ll save much more money, won’t I? Anggap saja aku punya gaji 3juta (rata-rata gaji teman-temanku), dan aku bekerja di kota besar yang sangat menunjang gaya hidup hedonisme-ku. Bisa dipastikan, gajiku akan ludes dalam sepersekian hari. Dipotong biaya makan, uang kost, dan kebutuhan-kebutuhan tidak terduga yang lain.


Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Maukah Kau Menikah Dengan.....?

0 comments
Tentang wanita-wanita dan keputusan hidupnya, kadang memang hal yang complicated tapi berbanding lurus kadang juga bisa dikategorikan interesting. Aku terlahir sebagai wanita, physically, and mentally. Bukan semacam wanita "jadi-jadian" yang terbiasa menjadi pelarian saat Kantip datang. I'm a woman, truly.

Di usiaku yang sekarang, aku juga tidak bisa memberi label pada jenis apa aku berdiam. Child? tentu bukan. Teenagers?  masa itu sudah aku lewati. Adult? hey...I'm not married!  Jadi...what am I?  Yah, setidaknya aku masih manusia berjenis kelamin wanita, penyuka pria, setidaknya I'm normal. Teman-temanku sering berkata, "Kita wanita" bukan gadis, bukan cewek, kita wanita. Dewasa. Mature. Dalam hal ini, aku setuju dengan anggapan "mature", kan tidak berarti harus sudah menikah, berkarir cemerlang, atau apalah itu. Menurutku, mature muncul dari pola pikir, dan behavior seseorang. Dan somehow, dari cara orang tersebut mengambil keputusan dalam hidup.

In line with that, kadang keputusan-keputusan seorang wanita mengalami ketidak-relevan-an dengan wanita lain. Penentuan pilihan hidup, juga kadang menjadi sebuah pembeda satu wanita dengan yang lainnya. Contoh paling sederhana, namun yah...lagi-lagi complicated adalah tentang Pernikahan. Ilustrasinya seperti ini:

Wanita 1
Jaman sekarang nikah muda? No way! Big NO! Yang bener, jadi wanita sekarang harus berkarir dulu. Di kotaku, banyak wanita yang sudah mencapai angka 30 untuk usianya tapi masih single happy, bukan karna nggak laku, tapi karna mereka ingin berkarir, menata masa depan, berpenghasilan dan mapan, setidaknya untuk diri sendiri. Bayangkan jika kita, para wanita, masih muda, seumur 20an, belum berpengalaman hidup, tidak bekerja, tidak membuat pundi rupiah untuk peti harta kita sendiri, mau jadi apa? Anggap saja kita menikah pada kondisi seperti itu, lalu punya anak. Suatu hari ketika gaji suami kita hanya cukup untuk mengenyangkan perut dan membayar tagihan-tagihan bulanan rumah, juga cicilan kendaraan yang mengepulkan asap kenalpot,  disaat yang sama kita ingin punya label bermerk di baju kita, membuat jemari berkilau dengan permata, lalu bagaimana? Bukankah lebih baik kita bisa menghidupi diri kita sendiri? 
Andaikan kita sudah mampu memberikan suami-suami kita keturunan mereka, lalu gaji mereka hanya cukup untuk mengepulkan dapur, untuk membetulkan pipa atau merenovasi genteng yang bocor, atau sedikit demi sedikit membayar cicilan rumah, saat itu juga sudah tiba masa sekolah anak-anak, bukankah lebih baik kita, para wanita bisa menyumbang sedikit rupiah dari kantong kita untuk menyekolahkan? Bisa jadi dengan gaji yang hanya sebegitu, suami-suami kita hanya mampu menyekolahkan "seadanya", hey...jaman terus berubah, biaya sekolah semakin bertambah! 
Bukankah akan miris jika kita tidak bisa membelikan mainan selayak teman-temannya disekolah, membawakan bekal lebih sehat dari teman sebangkunya, membelikan alat tulis high quality untuknya menuntut ilmu? 
jadi...bukankah wanita lebih baik bekerja? Tidak menggantungkan diri pada suami. Bahkan survey telah membuktikan, alasan perceraian nomor 1 adalah karna "Ekonomi".



Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO