Salam Dari Tubuhku

20 comments
Aku merindukanmu

Dari rambut, hingga kepala
Hingga kenangan

Sampai jari, hingga siku
Hingga pelukan

Hingga kaki, hingga langkah
Menujumu




Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Retorikal

22 comments
Apa yang lebih setia
Selain ombak pada pantai?
Kau dan aku

Apa yang lebih mengadiksi
Selain rindu tanah pada tetes-tetes gerimis?
Kau dan aku

Apa yang lebih bersenyawa
Selain matahari dan cahaya?
Kau dan aku

Lalu, apa yang lebih ditakdirkan
Selain adanya kau dan aku?

Cinta




Bidakara, 31.1.13
dengan sebuket cinta  untuk
Putra dan Putri

Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Biarkan Telingaku Mencium Bibirmu

9 comments
Ingatkan padaku tentang betapa kau mencintaiku
Sedetik setelah mendengarnya, aku akan tersenyum malu-malu
Mengerjap-kerjap manja ke arahmu, lalu memelukmu kuat-kuat
"Aku pun mencintaimu... Sangat mencintaimu..."

Ucapkan padaku berulang-ulang, bahwa kau merindukanku
Aku tak akan pernah bosan mendengarnya
Suaramu; morfin bagi telingaku, yang tak pernah gagal
mengumpan berlusin senyum pada tiap rebahku di malam hari
Ah... tak ada yang lebih kurindukan selainmu

Katakan sambil menggenggam jari-jari telanjangku
"Kau semestaku, segala-galaku..."
Dan biarkan telingaku menangkap setiap notasi
Dari suaramu yang paling mengadiksi
Menjadikannya candu hingga nanti, hingga masa dihabisi

Lalu... ingatkan sekali lagi padaku
Aku tuli dan kau bisu



Maka katakan yang sederhana
pada nama-nama luar biasa
sebelum kau tak bisa bicara dan tak ada yang mau mendengar

Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Rencana Yang Tidak Selesai di Bulan Januari

21 comments
Besok, aku akan mengenakan kaus sederhana
Dengan rok sifon coklat susu
Sedangkan kau dengan kemeja putihmu
Dan sepatu kulit yang baru kau beli minggu lalu

Besok, kita akan membuang senja di bangku taman
Membeli semangkuk bubur kacang hijau hangat-hangat
Lalu kau akan mendengar; lamat-lamat
Ada suara kita yang ikut larut di dalamnya
Seperti denting sendok dan mangkuk yang bertumbuk
Yang terus berdenging meskipun sisa-sisa santan
Telah habis luruh di dalam ember cucian

Besok, aku akan menjadi tercantik yang sederhana untukmu
Kau akan menggenggam tanganku erat-erat
Menatap mataku lekat-lekat
Menjadi pria sederhana dengan senyum paling luar biasa
Dan sebelum petang dirampas malam
Kupastikan kamera sakumu akan menangkap banyak tawa kita
Membawa ingatan tentang senja dan semangkuk bubur kacang hijau
Hingga bermasa-masa 

Rencana kita sudah mencapai titik paripurna, bukan?

Tinggal satu perkara, Sayang...
Bagaimana jika nanti malam kita... mati?


Karena  terkadang kita lupa
bahwa manusia tidak hidup selamanya
Banyuwangi, 11-1-13

Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Doa-doa Sebelum Malam Reinkarnasi

21 comments
Semoga malam ini kau sudah tertidur di atas ranjangmu
Agar aku bisa menopang tubuh kelelahanmu
Dan lahir sebagai gumpalan kapuk
Yang menyamankan tidurmu hingga pagi

Semoga kali ini kau sedang mengenakan sweater kesayanganmu
Yang warnanya mulai pudar itu
Agar ketika aku lahir di tiap helai benang wol-nya
Aku bisa langsung memeluk, menghangatkan tubuhmu

Semoga saat ini kau sedang membaca buku puisi kesukaanmu
Supaya ketika aku lahir di antara aksara-aksaranya
Kau bisa seketika mengenali kelahiranku
Lewat metafora dalam tiap-tiap baitnya

Sebentar lagi aku akan bereinkarnasi, Sayang..
Jika kau tidak sedang tidur, memakai sweater
Atau membaca buku puisi..
Maka aku akan merapal doa terakhirku;
Semoga saja saat ini kau sedang berdiri
Di depan teras, mencari-cari kunci di saku celana
Sebelum akhirnya membuka pintu rumahmu
Tempatmu selalu berpulang;
Aku



Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network
Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Tahun Ini Kudatangi Kotamu, Tujuh Kali

16 comments
Pertama, ketika awan masih begitu angkuh dengan putihnya, dan matahari masih malu-malu untuk mencemburui bumi. Itulah pertemuan pertamaku dengan kotamu. Pertemuan dimana aku membuang jam-jam malamku demi mendengarkan seorang penyiar radio kesukaanmu mengudara hingga dijemput subuh. 

Kedua, aku datang dengan membawa sekeranjang buah mangga juga srikaya dan kau menyambutku dengan bercangkir-cangkir   Mandheling. Saat itu kau menitipkan sebuah rahasia pada burung biru kecil yang hinggap di meja kerjamu; kau bilang aku seperti secangkir kopi yang kau sesap di suatu sore yang berawan. Biar kuberi tahu kau, semua burung yang berwarna biru tidak pernah bisa dipercaya. Dalam hitungan menit, rahasiamu sudah berpindah ke telingaku.

Ketiga adalah ketika aku datang dan membacakan sebuah buku dongeng tentang planet-planet di tata surya. Bagiku kau terlihat seperti planet berwarna merah sedang aku yang kekuningan. Saat tersisa sembilan halaman terakhir, kau sudah tertidur. Ah... kau pasti lelah sehabis menonton pertandingan bola yang kau gilai itu. Kau tau? Setelahnya aku kembali membacakan buku dongeng itu untukmu, semoga sampai ke dalam mimpimu.

Kemudian yang keempat, ketika bus yang kutumpangi berhenti di terminal kotamu tapi aku kehilangan sebelah sepatuku. Aku tak bisa membayangkan menemuimu tanpa memakai sepasang sepatu. Bagaimana aku bisa berlari kemudian memelukmu tanpa melukai kakiku? Maka kuputuskan untuk membeli sepatu baru dan segera mendatangi kotamu lagi bulan depan. 

Kedatanganku yang kelima, adalah saat dimana aku mulai mengenal setiap lekuk kotamu yang kolasenya kau sembunyikan di balik selimut hijau di atas kasur. Maka kubiarkan diri tertidur di sana, bersama potongan-potongan cerita dari setiap pertemuan yang kau jadikan pelukan untuk menghangatkanku. 

Yang tersulit adalah kedatanganku yang keenam. Kehabisan tiket kereta, dan aku sangat merindukanmu. Maka kudatangi kotamu dengan menumpang pada titik-titik kecil air yang ditumpahkan awan yang sudah tak lagi angkuh dengan putihnya. Ya... begitulah aku menemuimu, di kotamu.

Dan ketika kau meminta untuk kutuliskan sebuah sajak tentang semua kedatanganku dijadikan satu, itulah semalam; kedatanganku yang ketujuh. Maka tahun ini telah kudatangi kotamu, tujuh kali. Untuk kedatangaku yang kedelapan tahun depan, maukah kau yang menjemputku; di kotaku?


Setelah tujuh purnama
05.12.12

Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Beginilah Seharusnya Mengeja Kita

7 comments
Jika ada dua nama kota
Yang meski di antaranya tertanam jeda ratusan kilometer
Tapi tetap saling meraih, hingga kemudian berpelukan
Itulah kota kita..

Jika ada sepasang sepatu
Yang bersamanya berarti berjalan di atas tanah kering
Atau berlari melewati genangan lumpur
Itulah kaki-kaki kita, langkah kita..

Jika ada sebatang pena
Yang berkawan dengan lembar-lembar kertas dalam buku
Itulah sajak tentang kita; kisah kita..

Jika ada sebuah masa
Dimana aku dan kamu tak lagi berarti dua kata yang berbeda makna
Maka itulah masa depan;
Kita..


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network
Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO