Senja Di Wonokromo

5 comments
Dia bilang namanya, Na. Singkat ya. Aku memanggilnya Mbak Na. Soal siapa dia, aku sama sekali tidak tahu. Apalagi soal dia dari mana. Dia menyebutkan nama kota yang katanya ada di ujung timur pulau Jawa. Hm...memangnya timur itu mana? Aku buta arah. Tapi ya sudahlah, toh aku juga tidak akan pernah bisa melihat kota itu. Jadi, Mbak Na ini asalnya dari kota yang sangat jauh. Kira-kira sih begitu. 

Dari suaranya, Mbak Na ini pasti jago menyanyi. Dia punya suara yang bagus menurutku. Meskipun tanpa microphone, aku masih bisa mendengar jelas dia berbicara diantara bisingnya suara Kereta Api yang seliweran nyaris tanpa jeda. Membuat nyanyianku wajib kuhentikan tiba-tiba karena PPKA-nya harus menyiarkan pemberitahuan pada orang-orang yang di stasiun soal kedatangan juga pemberangkatan Kereta Api. Seringnya sih saat aku tengah asyik-asyiknya melantunkan lagu-lagu yang kata orang adalah lagu dewasa. Bukan lagu anak-anak. Bukan lagu yang pantas dinyayikan oleh anak seumuranku. Ahh...biar saja, kalau bukan lagu-lagu itu yang kunyanyikan, lalu makan malamku nanti kubeli dengan uang yang mana?

Baru beberapa menit yang lalu, Mbak Na bertanya padaku, pertanyaan klasik, pertanyaan yang umum dialamatkan pada seorang anak sepertiku. Soal sekolah. Kubilang saja aku sudah lulus SD. Ya, aku baru lulus Sekolah Dasar beberapa bulan yang lalu. Perkara melanjutkan ke SMP atau tidak, rasanya aku sudah tidak begitu memperdulikannya lagi. Sebenarnya aku mau saja melanjutkan sekolah. Hanya saja, aku punya dua pertanyaan besar yang jawabannya kutuntut bisa memuaskan diriku. Pertama, uang dari mana? Kedua, sekolah yang mana? Itu saja. Dan jawabannya? Belum kudapatkan.

Aku tadi bilang, bahwa semasa SD, aku selalu masuk peringkat tiga besar. Kata Mbak Na berarti aku anak yang pintar. Hehe. Begitu ya? Dia bilang aku seharusnya bisa melanjutkan sekolah. Sayang, katanya. Ahh... Mbak Na ini, hidupku kan tidak semudah itu. Lagipula, aku suka menyanyi, sangat suka. Aku tidak akan bosan menyanyi di sini. Meskipun di sini berisik, bising, juga kadang ada gaduh suara orang-orang lalu lalang, tapi aku suka menyanyi di tempat ini. Dan karena aku tidak bisa lagi untuk sekedar belajar di sekolah, jadi lebih baik aku belajar menyanyi saja di sini. Kata Mbak Na kan suaraku bagus, ya?

Lagi-lagi suara menderu Kereta Api datang menginterupsi obrolan kami, tapi tetap, suara Mbak Na bisa aku dengar dengan jelas. Suara merdu lain yang mampir di telingaku setelah kedua Ibuku. Mbak Na sempat heran, bagaimana bisa aku punya dua Ibu. Kubilang saja mereka bukan Ibu kandungku. Ibu yang melahirkanku sudah meninggal dunia.

Ada hening sejenak setelah itu. Mungkin Mbak Na merasa kasihan ya? Lalu Mbak Na bertanya lagi soal Ayahku. Dia kira Ayah menikah lagi dengan salah satu Ibu angkatku ini. Bukan. Ayahku yang itu, yang tadi memainkan Orgen itu, dia juga bukan Ayah kandungku. Ayah kandungku juga sudah meninggal dunia. Aku sudah tidak punya orang tua kandung. Aku yakin, pasti Mbak Na ini sedang kasihan padaku lengkap dengan tatapan penuh iba juga, sama seperti orang-orang kebanyakan. Apalagi saat akhirnya Mbak Na sampai pada pertanyaan tentang di mana aku tinggal.

Sebenarnya ada sebuah rumah yang dulu kutinggali bersama kedua orang tua kandungku di Porong, tapi itu sudah lama sekali. Sekarang katanya rumah itu sudah tidak lagi ada. Tapi itu bukan karena kedua orang tuaku sudah tidak tinggal di sana lagi. Orang-orang bilang, rumahku jadi salah satu yang terendam lumpur Lapindo. Aku saja sampai sekarang tidak tahu lumpur Lapindo itu seperti apa. Yang aku tahu, lumpur itu adalah semacam air bercampur tanah kental kasar yang tergenang di jalan bekas hujan yang membuat kakiku kotor waktu tidak sengaja menginjaknya. Memangnya sebanyak apa sih lumpur Lapindo itu, sampai bisa menenggelamkan rumahku? Padahal itu satu-satunya monumen kenangan tentang keluargaku. Meskipun aku tidak bisa benar-benar melihatnya, setidaknya jika rumah itu masih ada, aku bisa berdiam di sana. Mencium wangi khas rumah tempatku menghabiskan masa balita, dan mendengarkan suara-suara Ayah dan Ibu dalam ingatanku.

Aku sebenarnya ingin sekali melihat raut wajah Mbak Na. Seperti apa ya orangnya. Apa dia cantik? Tinggi? Baju apa yang dia pakai? Apa dia sedang tersenyum sekarang? Mengapa tiba-tiba dia diam? Pasti dia lagi-lagi sedang merasa kasihan padaku. Begitukah? Seperti apa ya Mbak yang ada di dekatku ini? Tapi ya sudahlah, mengobrol dengannya saja sudah cukup menyenangkan buatku. Nyaris tidak pernah aku diajak mengobrol dengan siapapun yang sekedar mampir di Stasiun ini, jadi kunikmati saja obrolan kami.

Sempat kuajak dia bernyanyi tadi, tapi dia malah balik bertanya, kalau saja mungkin aku bisa menyanyikan lagu berbahasa Inggris. Sayangnya aku belum bisa, aku kesulitan menemukan cara menghafal lagu-lagu selain yang berbahasa Indonesia. Memang bagaimana caranya? Yang paling mungkin adalah dengan mendengarkan seseorang membacakan lirik lagunya pelan-pelan, lalu membiarkan otakku bekerja keras menghafalkan tiap kata-nya sedikit demi sedikit. Ahh...susah. Tapi barusan aku berjanji, suatu saat aku akan menghafal setidaknya satu lagu berbahasa Inggris dan akan kunyanyikan bersama Mbak Na, jika nanti dia kembali ke sini.

Mbak Na sempat bertanya lagi, pertanyaan yang kebanyakan orang tidak memberikannya padaku.

"Suatu saat nanti, kalau Mbak datang ke sini lagi, entah kapan. Apakah kamu masih akan mengingat Mbak? Mengingat suara Mbak?"

Kira-kira begitu pertanyaannya. Aku tersenyum, lebar. Sangat Lebar. Dengan keyakinan seribu persen aku mengangguk. Ya. Aku pasti akan mengingatnya, mengingat suaranya. Memangnya bagaimana lagi aku mengenali seseorang kalau bukan dari suaranya? Itu satu-satunya caraku menghafal nama orang-orang yang kukenal, aku kan tidak bisa mengingat mereka dari wajahnya. Kukatakan padanya, aku pasti akan mengenalinya. Dan kami pasti akan bertemu lagi, asalkan dia datang di waktu seperti sekarang ini, sebelum jam lima sore. Sebelum senja menjadi terlalu orange. Ya kan? Warna senja itu orange kan? Ya..seperti itulah mungkin. Pokoknya sebelum senja habis, aku masih dan akan selalu ada di sudut Stasiun Wonokromo ini, menyanyi.

Aku percaya suatu saat nanti kami akan kembali mengobrol seperti ini. Kupastikan aku tidak akan melupakan suara Mbak Na. Dan...Mbak Na, jangan lupa ya. Namaku, Wiwin.


 


Wonokromo, Februari,  2012
Someday, we'll sing together
Promise me


*PPKA : Pimpinan Pemberangkatan Kereta Api

Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Masih(kah) Menjadi Kejutan

2 comments
Sempat..
Kamu bilang, Kejutan itu Aku

Kejutan,
Karena menemukan renyah dari suara di ujung telepon sana
Karena mampu mengganyang enam puluh menit dikali lima
Pada dialog pertama aku-kamu
Yang harusnya cukup hanya jadi preambule

Kejutan,
Karena sajak yang ku muarakan padamu seketika menerbitkan hening
Karena kidung asmara yang kita nyanyikan, selalu tersudahi
Dengan simpul senyum yang akhirnya memburai jadi tawa tergelak

Kejutan,
Yang dalam beberapa menit setelahnya
Membuat kata-mu mengawan
Karena aku dan sendiriku, perjalananku, juga segala yang hanya aku

Kejutan itu Aku...
Masih ada (kan) ?


"satu jam harusnya lebih  dari 60 menit"
tiba-tiba teringat itu

Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Caraku Mencintamu

2 comments
Kali ini...
Dengan cara yang tidak kau mengerti
Yang bagimu belum teramat
Yang masih tertahan, katamu semalam

Dengan cara yang ku punya, sendiri
Dengan takaran yang aku, milikku
Yang mungkin belum disenyawa kecapmu

Dengan cara yang tidak kau mengerti
Yang anggapmu terlalu dini
Yang bagiku caraku
Bukan tentang prematurnya yang sangat

Ya...
Dengan cara itu...
Aku mencintaimu




Ahh..lupakan saja
it's been a month, dear..
I miss you

Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Bukan Untuk Dikomentari

2 comments
Menjelang siang dan aku duduk di sini
Di tengah ruang nuansa merah-abu abu
Lagi-lagi hanya dengan Hazelnut Float. Itu saja.
Dan seperti biasa
Dua jam ke depan bakal habis cuma dengannya

Sepuluh menit pertama dan meja ini sudah penuh
Dengan ponsel yang earphonenya tersambung ke telingaku
Dengan buku, pulpen dan spidol-spidol warna pelangi

Pelayan-pelayan disini, hafal, aku yakin
Dengan kedatanganku, sendiriku lebih seringnya
Yakin juga, mereka menganggapku aneh
Betah membuang waktu di sini hanya dengan segelas minuman lima ribu rupiah
Berlama-lama menunduk, bermain pulpen dan spidol di atas buku kumal

Kamu juga, kan?
Menyamarkan kata 'aneh', menggantinya dengan 'unik'
Hahaha..
Tak apa..
Setidaknya, kamu tahu
Sebagian yang tentang diriku, atau kamu.. juga kita..
Kulahirkan disini
Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Ini Bukan Puisi

4 comments
Jadi, anggap saja aku bertanya...

Bolehkah tanpa kata Sayang, atau Cinta?
Bagiku itu cuma jajaran huruf dalam kamus. Apa sih maknanya?
Tidak bisakah hanya dengan "Aku bahagia bersamamu"?
Ya...setidaknya aku bahagia. Sekarang.
Tidak cukupkah?

Haruskah itu disenyawa dengan genggam tanganmu yang nyata?

Dengan semua senyum juga tawa
Dengan segala yang dikisahkan lewat tengah malam.
Atau dengan pelukan juga kecup meski hanya berbatas suara.
Bahagia itu..belum cukupkah dengan begitu saja?
Setidaknya sekarang.

Aku hanya tidak usai menemukan ilustrator rasa bahagia itu
tawa, serta peluk hangat itu.
Hanya Sayang.
Yang mungkin terlafazkan bukan di malam yang tepat.


Sendiri
Menahan hujan disini.
Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Hanya Terang

1 comments
Bersama payah
Kutata remah memoar dialog kita

Bukan rinai, bukan senja, lain juga temaram
Meski sempat kukira itu serupa pemadatan mereka-mereka
Lain.

Malam memang, juga gerimis serta gelap yang niscaya
...tapi, yang kuingat, berbatas


"Kamu... masih terang-benderang."


Hanya itu...
Lalu, entah.



-dari sebuah kejutan-
Dalam percakapan seberat kapas
Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Untuk "Strawberry"... it's finally your story! :)

6 comments

Aku tau setiap manusia terlahir dengan garis kodratnya masing-masing. Aku, kamu, dia, dan siapapun yg berdiam di bumi ini tidak pernah meminta untuk jadi apa atau bagaimana saat terlahir. Memilih lahir dari rahim siapa pun tidak bisa. Sungguh, ketidakbisaan ini yang pada akhirnya menjadi pencetus seongok perbedaan. Ya, hanya seongok yang bagi sebagian besar orang ini bukan sekedar pembeda, ini...tembok penghalang.

Sepertiku, seperti pria diujung telepon sana. Kami terlahir dengan pemilihan jenis yang berbeda. Dia cukup menjadi penanggung jawab hidup seorang wanita beserta keturunannya, lengkap dengan kekuatan maskulin dan kewajiban menafkahi jiwa-jiwa yang mengabdi pada hidupnya. Sedangkan aku, Tuhan menyiapkanku untuk meneruskan DNA seorang pria yang kelak berlabel “suami”ku, menghidupi tiap generasinya dg jiwaku. Dan sebuah ketidaksengajaan mempertemukan kami diikuti dengan onggokan pembedanya, menautkan segala perasaan mengganggu yang kemudian kusebut cinta.

Tidak butuh berlama-lama bermain waktu untuk mencintai pria macam dia. Singkat saja. Dan tiba-tiba, Booom...!! Rindu yang tertuju untuknya meledak. Keinginanku untuk memonopoli tiap detik milikknya juga tak kalah mengeluarkan dentuman dahsyat. Benar-benar, It’s called Love. Sesuatu yang tidak pernah aku andaikan bersamanya.

Entah kejujuran atau kebalikannya, dia bersaksi dihadapanku, dia mencintaiku. Ah...tak perlu lagi ku papar betapa aku juga teramat jatuh cinta pada sosoknya. Pada beragam kebaikannya, kesabarannya, ketulusannya juga entah apa lagi yang Tuhan titipkan untuknya untuk menjadi sosok yang aku cintai. Aku merasa kami sama. Sama-sama mencinta. Meskipun aku tau, kesamaan kami tidak mampu mengalahkan segala pembeda yang telah menempel lebih lekat dari sekadar ari-ari kami sejak dalam kandungan. Kami berbeda, bahkan sejak sebelum dilahirkan.

Belakangan aku merasa keinginan untuk memonopolinya adalah sesuatu yang telah menjadikanku seorang pengikut dari paham egoisme. Kami tidak dilahirkan berbeda untuk menjadi sama. Kesamaan kami hanya berbatas pada cinta yang memborgol kami, tanpa kunci untuk membuka borgolnya. Locked. Selebihnya, kami berbeda. Kami bahkan tidak bisa mengeja nama Tuhan bersama-sama.  Bulan dan tahun kami pun punya nama yang berbeda. Tidak akan pernah berhasil baginya untuk membawaku berada di jalannya, begitu pula aku yang mungkin hingga bumi tidak lagi berotasipun tidak akan membuatnya bergeming dari jalan yang disiapkan Tuhan miliknya. Benar-benar aku telah menjadi pengikut paham egoisme tingkat akut karna sempat berkeinginan memonopolinya. Kami.., berbeda.

Hanya beberapa menit yang lalu, secara klasik dia menanyakan keberadaan juga keadaanku setelah berhari hari menutup akses, menutup mata atas kecanggihan teknologi komunikasi. Antara senang, lega, dan...sedikit menyesakkan. Sesak karna aku yang menghentikan secara tiba-tiba perputaran cinta kami. Jangan bayangkan kata “tiba-tiba” terkonotasi dengan “sepihak”, aku yakin dia punya pemikiran sepaham tentang penghentian putaran cinta ini. Hanya saja, mungkin memang harus ada yg mendahului penghentian ini. Tapi...mengapa harus aku? Mengapa bukan dia? Apakah memang harus aku? Dan...mengapa opsi terbaik bagi hubungan kami harus mendaratkan keputusannya di tanganku? Aku benci menjadi seperti ini. Benci menyampaikan pemilihan ini padanya. Benci harus merasakan sesak ini lebih dulu daripadanya.

Aku memang membulatkan niat untuk menhaturkan pemilihan ini. Ini yang terbaik yang akan terjadi. Hasilnya? Jangan tanya. Kecanggihan teknologi macam apapun tidak sanggup menembus eksistensinya. No messages, no call, just...nothing. Aku pikir kami akan menghadapinya dengan (jauh) berbesar hati?

Dan beberapa menit yang lalu, aku mendapati pesan singkat itu (lagi). Sekeras mungkin aku berusaha mewajarkan jawabanku. Be normal! Tapi interaksi hati ini seakan tidak kunjung mendapat ujungnya. Terus bergulir. Beberapa menit berikutnya aku mendapati deretan huruf darinya yang seakan bicara padaku, “Aku pun terluka...”

Disini semakin sesak.

Apa sakit ini adalah perkara yang aku ciptakan? Yang aku munculkan perihnya? Apa kami masih punya kesamaan? Rasa sakit yang sama mungkin. Hhh...rasa sakit itu mungkin serupa, tapi tetap saja tidak merobohkan pembeda diantara kami. Tidak akan pernah.

Entah apa yang menuntun kami untuk kembali bertemu. Aku rasa arus cinta kami masih terkoneksikan dengan amat baik, menimbulkan rindu luar biasa hebat dan menjadikan wajib bagi kami untuk setidaknya saling bergenggam tangan. Ada pucat di wajahnya. Entah karna kesakitan yang (aku rasa) kubuat, atau memang kesehatannya semacam mengalami degredasi? Entahlah...aku hanya begitu merasakan tertusuk menyakitkan di ulu hati melihatnya sepucat ini.

“I need you, still...”

Tidak taukah dia betapa aku juga membutuhkannya? Bahwa aku juga nyaris menjadikan dia candu. Semacam rokok yang harus berpasangkan kopi. Aku juga membutuhkannya lebih dari yang bisa dia perkirakan. Dia meraih jemariku, diamnya berkata seribu bahasa yang hanya dimengerti oleh hatiku. Seketika itu pun, aku tau, dia telah melepaskan. Melepaskan perasaan menyiksanya. Melepaskan rasa sakitnya. Melepaskan ketidakrelaannya.

Melepaskanku.

Tuhan memang tidak membaptiskan firman yang sama pada kami. Tidak pula menciptakan persamaan kidung untuk pujianNya. Tapi kasih kami setara langit. Seandainya pembeda ini bisa kami lebur, lalu tempa menjadi ongokan baru, tentu sudah selesai kami lakukan sejak berbulan bulan yang lalu. Tapi soal peleburan itu, Tuhan tidak menguasakannya pada kami. Dan dia, sosok kucinta ini, telah melepaskan hatinya dari pembeda diantara kami.

Dia masih menggenggam tanganku, mengatakan betapa dia juga ingin berucap jutaan maaf. Aku juga. Rasanya tak habis seluruh kata maaf didunia ini kulontarkan. Dan dia tersenyum. Semain erat menggenggam, mengamini segala yang kuputuskan untuk terjadi. Dan aku, aku menginjinkannya melepasku. Juga mengijinkan diriku melepasnya, demi Tuhanku. Tuhan kami.

Gurat pucatnya semakin sirna, terganti oleh senyum dengan lesung pipinya yang selalu menawan. Aku tau kami akan selalu bersama, dengan takaran yang berbeda dari kemarin. Dengan bentuk yang berbeda. Entah dia akan mengetahuinya atau tidak, tapi aku akan tetap membisikkan doaku untukmu. Pada Tuhanku. Dengan Caraku.


Memahami kisahmu (lagi)
28.03.2012

Semoga kali ini kamu memaknainya dengan rasa yang lebih
Kamu sudah semakin pintar menulis kan sekarang :)

Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO